Jejak Rusa Tak Berhenti di Batas Kawasan, Warga Bawean Tunjukkan Jalannya

Agus Irwanto
Jejak Rusa Tak Berhenti di Batas Kawasan, Warga Bawean Tunjukkan Jalannya
Kamera Jebak akan dipasang untuk membaca pergerakan rusa Bawean antara Blok Kumalasa dan Gunung Besar. Namun sebelum kamera bekerja, pengetahuan masyarakat lebih dulu menunjukkan jalan.

Gresik - Rusa Bawean tentu tidak mengenal garis batas di peta. Ia bergerak mengikuti tutupan vegetasi, sumber pakan, tempat berlindung, dan ruang yang memungkinkan untuk dilalui. 

Pada beberapa tempat, perjalanan itu dapat membawanya melintasi batas kawasan konservasi dan memasuki lahan masyarakat. Di situlah sebuah pertanyaan penting muncul, jalur mana yang sebenarnya mereka gunakan?

Senin pagi, 28 September 2026, Tim Resort KSDA Wilayah 09 Gresik–Bawean bersama peneliti Dr. Frank Drygala mencoba mencari jawabannya bersama masyarakat. Sekitar pukul 09.00 WIB, warga dari Desa Kumalasa, Suwari, dan Dekatagung berkumpul di Desa Kumalasa, Kecamatan Sangkapura. Mereka membicarakan rencana pemasangan kamera jebak pada sejumlah lahan masyarakat yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Pulau Bawean.

Pemasangan kamera tersebut merupakan bagian dari kegiatan penelitian Dr. Frank Drygala bertajuk “Research on Assess and Secure Bawean Terrestrial Endemics, With Focus on Bawean Deer (Axis kuhlii) and Bawean Warty Pig (Sus blouchi) Conservation as Umbrella Species.”

Penelitian yang direncanakan berlangsung pada periode 17 September hingga 16 Desember 2026 tersebut menempatkan Rusa Bawean dan Babi Kutil Bawean sebagai fokus dalam upaya memahami sekaligus mendukung pengamanan satwa endemik terestrial Pulau Bawean.

Salah satu bagian yang ingin dipelajari adalah ruang yang digunakan Rusa Bawean, termasuk kemungkinan jalur pergerakannya antara Blok Kumalasa dan Blok Gunung Besar. Untuk itulah kamera akan bekerja.

Sebelum Kamera Jebak, Ada Cerita Warga
Kepala Desa Kumalasa membuka pertemuan dengan harapan sederhana, bahwa kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan data penelitian belaka. Namun juga menambah pengetahuan masyarakat mengenai Rusa Bawean dan menumbuhkan kepedulian untuk menjaganya.

Frank Drygala menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang bersedia hadir. Karena keterbatasan bahasa, penyampaian materi kemudian dibantu Tim RKW 09 Gresik–Bawean. Pembicaraan tidak hanya mengenai penelitian.

Tim mengajak masyarakat mengenal lebih dekat Rusa Bawean, satwa endemik yang keberadaan alaminya hanya ditemukan di Pulau Bawean. Ancaman terhadap satwa juga dibicarakan, termasuk perburuan ilegal dan keberadaan anjing yang dilepas secara liar.

Pesannya sederhana, bahwa menjaga Rusa Bawean tidak mungkin hanya dilakukan petugas. Masyarakat diajak tidak melakukan perburuan ilegal, tidak melepasliarkan anjing yang berpotensi mengganggu satwa, serta bersama-sama menjaga kawasan konservasi.

Barulah pembicaraan sampai pada benda kecil yang akan menjadi “mata” penelitian, kamera jebak.

Tim menjelaskan rencana titik pemasangan dan meminta dukungan masyarakat agar perangkat tersebut tidak dipindahkan atau diganggu, meskipun sebagian berada di lahan milik masyarakat.

Kamera itu bukan untuk mengawasi manusia. Namun, ia menunggu satwa yang akan lewat.

Ketika Warga Menunjukkan Jalan
Respons masyarakat justru membawa penelitian itu selangkah lebih maju. Mereka tidak hanya menerima rencana pemasangan kamera. Mereka menunjukkan jalan. Sejumlah warga memberikan informasi mengenai lokasi-lokasi di lahan masyarakat yang selama ini mereka kenali sebagai lintasan Rusa Bawean.

Informasi seperti ini penting. Pengetahuan masyarakat yang setiap hari hidup berdampingan dengan bentang alam Bawean dapat menjadi petunjuk awal untuk menentukan lokasi pengamatan. Selanjutnya, camera trap membantu merekam dan menguji keberadaan satwa pada titik-titik tersebut secara lebih sistematis.

Kamera dapat mencatat tanpa kehadiran manusia: siapa yang melintas, kapan satwa muncul, dan bagaimana sebuah ruang digunakan. Dengan begitu, cerita warga dan data lapangan tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru dapat saling melengkapi.

Spesies Payung dan Rumah yang Lebih Besar
Ada gagasan menarik di balik penelitian Drygala, umbrella species atau spesies payung.

Sederhananya, ketika kebutuhan ruang hidup suatu spesies yang memerlukan habitat tertentu dapat dipahami dan habitat pentingnya dijaga, perlindungan tersebut berpotensi memberikan manfaat bagi berbagai jenis lain yang menggunakan bentang alam yang sama.

Dalam penelitian ini, perhatian diarahkan antara lain kepada dua satwa khas Bawean, Rusa Bawean dan Babi Kutil Bawean. Namun pekerjaan konservasi tidak berhenti pada dua nama itu.

Yang sedang dibaca sesungguhnya adalah bentang alam tempat keduanya hidup, hutan, koridor, sumber pakan, ruang perlindungan, hingga bagian-bagian lahan masyarakat yang mungkin menjadi penghubung antar habitat. Sebab satwa tidak membaca papan batas kawasan.

Menjaga Satwa, Menguatkan Masyarakat
Menjelang sore, pekerjaan Tim RKW 09 Gresik–Bawean bergeser. Sekitar pukul 14.00 WIB, tim melakukan pendampingan kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Putra Daun sekaligus berkoordinasi dengan Kepala Desa Daun.

Yang dibicarakan kali ini bukan kamera jebak, melainkan rencana bantuan pengembangan ekonomi produktif pada 2027. Kepala Desa Daun berharap bantuan yang direncanakan nantinya benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung perkembangan usaha KTH Putra Daun.

Dua kegiatan dalam sehari itu tampak berbeda. Pagi hari berbicara tentang rusa dan kamera. Sore hari berbicara tentang kelompok masyarakat dan pengembangan ekonomi.

Namun konservasi memang tidak selalu bekerja dalam kotak-kotak yang terpisah.

Pengetahuan ilmiah dibutuhkan untuk memahami satwa. Kawasan dibutuhkan untuk menjaga habitat. Dan masyarakat yang hidup berdampingan dengan keduanya adalah bagian yang tidak dapat ditinggalkan.

Di Kumalasa, bahkan sebelum camera trap pertama bekerja, warga telah memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan kamera, sebuah ingatan tentang ke mana rusa-rusa itu biasa berjalan.

Selanjutnya, biarkan kamera yang menunggu dan membuktikannya. Sebab jejak rusa Bawean tidak selalu berhenti di batas kawasan. Untuk menjaganya, kita harus lebih dulu memahami ke mana ia berjalan.

Penulis : Nur Hayyan dan Fajar Dwi Nur Aji
Editor : Agus Irwanto

18 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait