Dua Orang Mandi, Dunia Maya Bereaksi, Sungai Kolbu Mengingatkan Kita tentang Batas!

Probolinggo - Hanya perlu beberapa menit rekaman untuk membuat sebuah mata air di tengah bentang alam Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang menjadi percakapan banyak orang.
Pada 15 Agustus 2026, dua orang pendaki terekam melakukan aktivitas mandi di aliran Mata Air Sungai Kolbu atau di Cagar Alam Sungai Kolbu, dekat Sabana Cikasur. Video tersebut kemudian menyebar luas di media sosial. Dalam sejumlah unggahan disebutkan keduanya diduga menggunakan sabun meski telah mendapat teguran dari pendaki lain.
Rekaman itu segera memantik reaksi. Kritik, kecaman, hingga desakan pemberian sanksi memenuhi ruang digital. Namun di balik riuh komentar tersebut, ada pesan yang jauh lebih penting, bahwa Sungai Kolbu bukan sekadar tempat mengambil air dalam perjalanan menuju puncak. Ia adalah bagian dari ekosistem yang harus dijaga.
Air yang Tidak Hanya Mengalir untuk Manusia
Di bentang alam Dataran Tinggi Yang, air adalah nadi kehidupan. Alirannya menopang vegetasi, mikroorganisme, satwa liar, dan berbagai proses ekologis yang sering luput dari pandangan manusia.
Bagi pendaki, air mungkin berarti pelepas dahaga. Bagi alam, air berarti kehidupan.
Karena itulah terdapat batas yang harus dihormati.
Aktivitas mandi, mencuci, terlebih penggunaan sabun atau bahan pencemar lainnya pada sumber air, bukan sekadar persoalan etika pendakian. Ia menyentuh prinsip dasar konservasi tentang memanfaatkan alam tanpa mengurangi hak kehidupan lain yang bergantung kepadanya.
BBKSDA Jawa Timur telah merespons kejadian tersebut dengan melakukan penelusuran dan identifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat. Langkah ini diperlukan agar informasi yang berkembang di ruang publik dapat diverifikasi secara utuh dan setiap tindak lanjut dilakukan secara objektif, proporsional, serta berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Penanganan peristiwa ini tidak hanya diarahkan kepada dua orang yang terekam dalam video. BBKSDA Jawa Timur juga akan menelusuri rombongan perjalanan dan pihak penyelenggara atau operator open trip, apabila berdasarkan hasil klarifikasi diketahui pendakian tersebut merupakan bagian dari kegiatan yang dikelola secara komersial.
Penelusuran dapat mencakup kepatuhan terhadap prosedur pendakian, perizinan atau administrasi yang dipersyaratkan, tanggung jawab ketua rombongan maupun penyelenggara perjalanan. Hingga sejauh mana peserta telah mendapatkan pembekalan mengenai aturan memasuki kawasan konservasi.
Apabila ditemukan pelanggaran, BBKSDA Jawa Timur dapat mengambil langkah secara bertahap dan proporsional sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku. Langkah tersebut dapat berupa pemanggilan dan klarifikasi, pembinaan, pernyataan tanggung jawab, evaluasi akses pendakian, hingga tindakan administratif lain apabila berdasarkan hasil pemeriksaan memang terdapat dasar untuk melakukannya.
Bagi penyelenggara open trip, kejadian ini juga menjadi momentum evaluasi. Membawa orang memasuki kawasan konservasi bukan hanya persoalan menjual paket perjalanan, menyediakan transportasi, atau mengantar peserta mencapai puncak.
Ada tanggung jawab konservasi yang ikut dibawa di dalam setiap perjalanan bahwa “Kawasan Konservasi Bukan Ruang Tanpa Batas”
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa peristiwa Sungai Kolbu harus menjadi pembelajaran bersama, bukan hanya bagi kedua pendaki tersebut, tetapi juga komunitas pendakian dan penyelenggara perjalanan wisata alam.
“Kami tidak ingin persoalan ini berhenti pada siapa dua orang yang ada di dalam video. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa ketika seseorang memasuki kawasan konservasi, ada aturan dan batas yang harus dihormati. Alam bukan ruang tanpa batas. Pendaki maupun penyelenggara open trip memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan aktivitasnya tidak merusak ekosistem yang mereka datangi,” tambahnya.
Menurutnya, BBKSDA Jawa Timur akan mengedepankan langkah yang terukur, edukatif, tetapi tetap tegas berdasarkan hasil klarifikasi dan ketentuan yang berlaku.
“Kami akan melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Jika perjalanan tersebut difasilitasi oleh penyelenggara open trip, tentu akan kami telusuri pula tanggung jawab penyelenggaranya. Konservasi bukan hanya urusan petugas. Siapa pun yang membawa orang masuk ke kawasan konservasi harus ikut memastikan peserta memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.” tegasnya
Pesannya sederhana, bahwa mendaki bukan hanya tentang kesiapan fisik mencapai puncak, tetapi juga kesiapan etika ketika memasuki rumah bagi kehidupan lain.
Apresiasi kepada Mereka yang Memilih Peduli
Di tengah derasnya reaksi dunia maya, ada satu hal yang patut mendapatkan tempat yaitu kepedulian.
BBKSDA Jawa Timur menyampaikan apresiasi kepada pendaki yang telah mengingatkan di lapangan, pihak yang mendokumentasikan kejadian, akun yang pertama kali mengunggahnya hingga menjadi perhatian publik, serta warganet dan komunitas pendaki yang memilih tidak diam.
Tanpa kepedulian itu, mungkin Sungai Kolbu akan kembali mengalir seperti biasa, sementara sebuah tindakan yang tidak semestinya terjadi di kawasan konservasi berlalu tanpa pernah menjadi pelajaran.
Media sosial kali ini menunjukkan wajah lainnya. Bukan sekadar ruang memamerkan perjalanan menuju puncak, tetapi juga dapat menjadi ruang pengawasan sosial bagi alam yang kita jaga bersama. Namun kepedulian tetap harus berjalan bersama etika.
Tidak diperlukan persekusi, penghinaan, ataupun penghakiman berlebihan terhadap individu yang bersangkutan. Berikan ruang kepada petugas untuk melakukan klarifikasi dan kepada mereka yang terlibat untuk menunjukkan itikad baik serta mempertanggungjawabkan tindakannya.
Mendaki Bukan Berarti Memiliki
Gunung mengajarkan manusia bahwa tidak semua tempat yang dapat didatangi boleh diperlakukan sesuka hati.
Ada mata air yang cukup dinikmati kejernihannya. Ada hutan yang cukup dilewati tanpa meninggalkan jejak. Ada satwa yang cukup diamati dari kejauhan. Dan ada kawasan konservasi dengan batas-batas yang harus dihormati.
Karena perjalanan ke alam liar sesungguhnya bukan tentang seberapa tinggi kita mampu mendaki. Ia tentang seberapa kecil jejak yang kita tinggalkan ketika pulang.
Sungai Kolbu mungkin tidak dapat berbicara. Tetapi melalui kejadian ini, pesannya terdengar jauh melampaui lembah Argopuro.
Datanglah sebagai tamu. Hormati batasnya. Ambil pengalaman dan tinggalkan alam tetap sebagaimana mestinya.
Kepada dua pendaki dan pihak penyelenggara perjalanan yang mungkin terkait, BBKSDA Jawa Timur membuka ruang bagi itikad baik, klarifikasi, dan tanggung jawab.
Sebab tujuan konservasi bukan semata-mata mencari siapa yang harus dihukum. Tujuan terbesarnya adalah memastikan mata air tetap jernih, kawasan tetap terjaga, dan kesalahan yang sama tidak kembali terulang.
Puncak boleh menjadi tujuan perjalanan, tetapi pulang tanpa meninggalkan kerusakan adalah pencapaian yang sesungguhnya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (1)
Tinggalkan Komentar
Cak Kartolo
mari jaga hutan kita



