Dua Dekade Dipelihara, Monyet Ekor Panjang Akhirnya Diserahkan

Pendekatan persuasif membawa seekor monyet ekor panjang yang telah sekitar 20 tahun berada dalam pemeliharaan manusia menuju penanganan lebih lanjut oleh Tim Matawali BBKSDA Jawa Timur.
Surabaya - Hampir dua dekade seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) hidup dalam pemeliharaan di sebuah rumah di kawasan Rungkut, Surabaya.
Kamis, 22 Oktober 2026, perjalanan panjang itu memasuki babak baru. Pemeliharanya memilih menyerahkan satwa tersebut kepada BBKSDA Jawa Timur setelah mendapatkan penjelasan dari Tim Matawali - Seksi KSDA Wilayah III Surabaya.
Penanganan berawal dari informasi masyarakat mengenai keberadaan satwa liar yang telah lama dipelihara di lingkungan permukiman. Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti petugas dengan melakukan pengecekan langsung dan berkomunikasi dengan pemelihara.
Pendekatan yang dilakukan bukan semata-mata untuk memindahkan satwa, tetapi terlebih dahulu membangun pemahaman mengenai karakter satwa liar dan pilihan penanganan yang lebih tepat. Pemelihara menjelaskan bahwa monyet tersebut telah berada dalam perawatannya sekitar 20 tahun dan diperoleh dari seorang kenalan di Kabupaten Ngawi.
Setelah berdialog dengan petugas, pemelihara menyatakan bersedia menyerahkan satwa secara sukarela kepada Tim Matawali - BBKSDA Jawa Timur.
Dua Puluh Tahun Bersama Manusia
Pemeriksaan visual awal menunjukkan satwa tampak sehat meski secara fisik terlihat telah berusia tua. Pada bagian perut juga terlihat adanya lipatan lemak.
Proses evakuasi membutuhkan kehati-hatian karena monyet masih menunjukkan respons agresif saat ditangani. Untuk menjaga keselamatan satwa maupun petugas, proses handling dilakukan dengan pembiusan.
Setelah administrasi penyerahan diselesaikan, satwa dibawa menuju kandang transit Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur untuk mendapatkan penanganan dan evaluasi lebih lanjut.
Riwayat sekitar dua dekade hidup bersama manusia menjadi faktor penting dalam menentukan langkah berikutnya. Satwa yang telah sangat lama berada dalam pemeliharaan tidak dapat serta-merta dilepas ke alam. Kondisi fisik, perilaku, kemampuan beradaptasi, serta tingkat ketergantungannya terhadap manusia harus menjadi bagian dari pertimbangan.
Komunikasi sebagai Jalan Konservasi
Peristiwa di Rungkut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan satwa liar di tengah masyarakat tidak selalu harus berlangsung melalui pendekatan represif.
Informasi masyarakat menjadi pintu masuk untuk melakukan pengecekan, sementara dialog memberi ruang bagi petugas dan pemelihara untuk mencari pilihan penanganan terbaik bagi satwa.
Pendekatan semacam ini penting agar masyarakat tidak ragu menyampaikan informasi mengenai satwa liar di sekitarnya. Tujuannya bukan mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan memastikan persoalan dapat ditangani dengan tepat sekaligus menjaga hubungan baik di tingkat masyarakat.
Pada akhirnya, pemelihara memilih menyerahkan satwa secara sukarela.
Bagi monyet ekor panjang itu, berpindah dari rumah yang telah ditempatinya selama bertahun-tahun tentu bukan akhir perjalanan. Tahap berikutnya justru menentukan bagaimana ia dapat menjalani sisa hidup dengan penanganan yang sesuai dengan kondisi dan riwayatnya.
Konservasi tidak selalu dimulai dari penindakan. Kadang, hasil terbaik justru lahir ketika informasi ditindaklanjuti dengan dialog, pemahaman, dan kesediaan untuk mencari jalan keluar bersama.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



