Dari Pesisir Jember ke Panggung Nasional, Putra Lestari Menjaga Napas Nusa Barung

Jakarta - Dari pesisir selatan Jember, kabar baik itu datang hingga panggung nasional. Kerja panjang para nelayan yang selama bertahun-tahun ikut menjaga salah satu pulau terluar di selatan Jawa akhirnya mendapat pengakuan.
Pokmaswas Putra Lestari, kelompok binaan Balai Besar KSDA Jawa Timur, ditetapkan sebagai Pemenang II Penghargaan Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Sekitar KSA/KPA/TB Tahun 2026. Bersama kelompok, Rachmad Abidin, S.Hut., Penyuluh Kehutanan BBKSDA Jawa Timur yang selama ini menjadi pendamping, juga memperoleh penghargaan atas perannya dalam mengawal tumbuhnya kemandirian kelompok.
Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, bersama Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, pada puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, 20 Agustus 2026, di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta.
Perjalanan Menuju Panggung Itu Tidak Singkat
Sebanyak 27 kelompok dari 17 UPT KSDAE dan satu UPTD Tahura diusulkan sebagai calon penerima penghargaan. Setelah melalui pencermatan, penelaahan dan penilaian, enam kelompok dengan peringkat tertinggi menjalani verifikasi lapangan. Tim penilai tidak hanya melihat kegiatan dan bukti dukung, tetapi juga menelusuri peran pendamping sebagai bagian dari validasi keberhasilan kelompok.
Hasilnya menempatkan Pokmaswas Putra Lestari dari Desa Kepanjen, Kecamatan Gumuk Mas, Kabupaten Jember, sebagai Pemenang II tingkat nasional dengan Rachmad Abidin, S.Hut. sebagai pendamping.
Berawal dari Kegelisahan Nelayan
Putra Lestari bukan kelompok yang lahir dari ruang rapat. Ia tumbuh dari kegelisahan.
Kelompok yang berdiri pada 2019 itu berangkat dari keprihatinan masyarakat terhadap kelestarian Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, terutama terhadap habitat penyu dan kekayaan satwa liar yang hidup di pulau yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia tersebut.
Sebanyak 23 anggota Putra Lestari seluruhnya adalah nelayan. Laut menjadi sumber penghidupan mereka. Namun kedekatan dengan alam perlahan membawa mereka pada kesadaran lain, bahwa alam yang memberi kehidupan juga membutuhkan manusia untuk menjaganya.
Bersama petugas BBKSDA Jawa Timur, mereka terlibat dalam patroli perlindungan dan pengamanan kawasan, SMART Patrol, monitoring satwa, penyelamatan hingga pelepasliaran satwa liar. Dalam pengamanan Nusa Barung, masyarakat menjadi bagian penting untuk memberikan informasi sekaligus mendeteksi lebih dini potensi ancaman dan gangguan terhadap keutuhan kawasan.
Jejak keterlibatan masyarakat bahkan telah tumbuh sebelum kelompok terbentuk secara formal. Dalam inventarisasi penyu tahun 2015, tercatat perjumpaan langsung maupun tidak langsung dengan 23 penyu hijau, aktivitas bertelur dengan 1.401 butir telur, serta estimasi populasi induk sebanyak 465 ekor pada tahun tersebut.
Pada monitoring rusa timor tahun 2023, keterlibatan kelompok bersama petugas kembali menjadi bagian dari pengumpulan data lapangan. Berdasarkan kamera jebak, estimasi populasi rusa timor di SM Pulau Nusa Barung saat itu mencapai 646 ekor, dengan proporsi area hunian yang terpantau sebesar 89 persen.
Saat Konservasi Menyentuh Dapur
Menjaga alam tidak dapat dilepaskan dari kehidupan orang-orang yang tinggal paling dekat dengannya.
Karena seluruh anggota Putra Lestari menggantungkan hidup sebagai nelayan, perubahan musim dan kondisi laut turut menentukan penghasilan keluarga. Pendampingan kemudian dikembangkan tidak hanya pada aspek perlindungan kawasan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi.
Melalui dukungan BBKSDA Jawa Timur, kelompok memperoleh pelatihan budidaya ternak serta bantuan kandang dan 15 ekor kambing etawa. Pada 2026, jumlah tersebut tercatat berkembang menjadi 30 ekor. Budidaya kambing dipilih sebagai alternatif penghidupan ketika musim angin barat membuat sebagian nelayan tidak dapat melaut.
Di titik inilah konservasi menemukan wajahnya yang lebih utuh.
Menjaga satwa, menjaga habitat, sekaligus memastikan masyarakat yang berada di garis terdepan konservasi tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan sejahtera.
Pendamping yang Memilih Berjalan Bersama
Di balik perjalanan Putra Lestari, ada proses pendampingan yang tidak selalu terlihat. Bagi Rachmad Abidin, S.Hut., keberhasilan pendampingan bukan ketika masyarakat terus bergantung kepada penyuluh, tetapi ketika kelompok tumbuh menjadi semakin mandiri dan menjadikan konservasi sebagai bagian dari kesadarannya sendiri.
“Tugas pendamping bukan membuat masyarakat berjalan di belakang kita, tetapi berjalan bersama mereka sampai suatu saat mereka mampu melangkah dengan kekuatannya sendiri. Putra Lestari membuktikan bahwa nelayan tidak hanya menggantungkan hidup dari alam, tetapi juga bisa menjadi penjaga bagi alam yang menghidupi mereka. Penghargaan ini milik mereka, milik orang-orang yang tetap menjaga Nusa Barung bahkan ketika tidak ada panggung dan tidak ada yang melihat,” ujar Rachmad.
Peran itu sejalan dengan perjalanan Putra Lestari yang menjadi mitra dalam memberikan informasi mengenai potensi, ancaman maupun gangguan di SM Pulau Nusa Barung.
Bagi Rachmad, penghargaan nasional justru membawa tanggung jawab baru: memastikan semangat kelompok tidak berhenti ketika seremoni selesai.
“Setelah ini tugas kami tetap sama, tetap menjaga agar semangat itu tidak berhenti bersama seremoni. Sebab ukuran keberhasilan pendampingan bukan berapa banyak penghargaan yang diterima, tetapi ketika masyarakat tetap memilih menjaga alam meskipun tidak sedang dinilai,” imbuhnya.
Dari Pesisir, untuk Nusa Barung
Tanggal 20 Agustus 2026 menjadi satu penanda perjalanan itu. Dari sebuah kelompok nelayan di Desa Kepanjen, Gumuk Mas, Jember, Putra Lestari berdiri di panggung nasional menerima penghargaan pada puncak HKAN 2026.
Namun panggung nasional bukan tujuan terakhir. Selepas seremoni, mereka akan kembali ke Jember.
Kembali kepada perahu dan gelombang. Kembali menyusuri pantai, membaca jejak satwa, mengikuti patroli, dan menjaga sebuah pulau yang dipisahkan laut dari kehidupan sehari-hari mereka.
Sebab konservasi sesungguhnya tidak selalu berlangsung di bawah sorot kamera. Ia sering tumbuh dari langkah-langkah kecil orang biasa yang memilih tetap peduli.
Dari pesisir Jember mereka berangkat. Di panggung nasional kerja mereka dihargai. Namun di Nusa Barung-lah cerita sesungguhnya akan terus dilanjutkan. Menjaga satwa. Menjaga kehidupan. Menjaga napas Nusa Barung.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (1)
Tinggalkan Komentar
Mas Agus
Menyala abangku



