Dari Bojonegoro dan Tuban, Dua Satwa Menempuh Jalan Menuju Pemulihan

Agus Irwanto
Dari Bojonegoro dan Tuban, Dua Satwa Menempuh Jalan Menuju Pemulihan

Sidoarjo - Mereka datang dari dua kabupaten dengan cerita yang berbeda. Seekor monyet ekor panjang jantan dewasa dari Bojonegoro dan seekor perkici pelangi dari Tuban. Keduanya kemudian menempuh perjalanan menuju kandang Unit Penyelamatan Satwa (UPS) Balai Besar KSDA Jawa Timur di Sidoarjo.

Selasa, 15 September 2026, Tim Matawali - Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro membawa kedua satwa tersebut untuk menjalani perawatan dan penanganan lebih lanjut.

Bukan sekadar perjalanan antarkota. Bagi kedua satwa itu, perpindahan tersebut menjadi awal dari proses berikutnya setelah sebelumnya diserahkan masyarakat dan dievakuasi petugas.

Seekor Monyet-ekor panjang (Macaca fascicularis) jantan dewasa berasal dari penyerahan masyarakat di Kabupaten Bojonegoro. Sementara seekor Perkici Pelangi (Trichoglossus haematodus) berasal dari Kabupaten Tuban.

Keduanya mempunyai status perlindungan yang berbeda, tetapi ketika berada dalam kondisi yang memerlukan penanganan, prinsipnya tetap sama: keselamatan dan kesejahteraan satwa menjadi perhatian pertama.

Dari Kepedulian Warga, Petugas Bergerak
Proses penyelamatan keduanya bermula dari informasi masyarakat. Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro kemudian melakukan evakuasi bersama Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bojonegoro dan Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tuban. Kolaborasi ini memperlihatkan satu bagian penting dalam penyelamatan satwa liar: petugas konservasi tidak selalu menjadi orang pertama yang melihat satwa dalam kesulitan.

Sering kali informasi justru datang dari masyarakat, lalu diteruskan kepada instansi yang berada paling dekat dengan lokasi. Dari sanalah mata rantai penyelamatan mulai bergerak.

Perjalanan Belum Selesai
Setibanya di UPS BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo, kedua satwa ditempatkan di kandang penanganan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Di titik ini, pekerjaan belum selesai.

Evakuasi hanya memindahkan satwa dari situasi awalnya. Setelah itu masih ada tahapan penting untuk melihat kondisi fisik, kesehatan, perilaku, serta menentukan penanganan yang paling sesuai bagi masing-masing individu.

Setiap satwa membawa riwayat yang berbeda. Seekor burung yang pernah berada dalam penguasaan manusia tentu dapat membutuhkan pendekatan berbeda dengan primata dewasa. Karena itu, keputusan selanjutnya tidak semata-mata ditentukan oleh keinginan untuk segera melepasliarkan satwa, tetapi oleh kesiapan satwa dan pertimbangan teknis yang menyertainya.

Dua satwa dari dua kabupaten tersebut kembali mengingatkan bahwa penyelamatan satwa liar kerap dimulai dari tindakan yang sangat sederhana, melapor.

Masyarakat tidak harus menjadi dokter hewan, polisi hutan, ataupun petugas konservasi untuk mengambil bagian. Cukup tidak menangkap untuk dipelihara. Tidak memperjualbelikan. Tidak mengambil keuntungan dari keberadaannya. Dan ketika menemukan satwa liar dalam kondisi membutuhkan pertolongan, memilih menghubungi pihak yang berwenang.

Karena bagi seekor satwa, satu panggilan telepon dari seseorang yang peduli terkadang dapat mengubah seluruh perjalanan hidupnya.

Kini, monyet ekor panjang dan perkici pelangi itu berada dalam penanganan UPS BBKSDA Jawa Timur. Mereka memang belum sampai pada akhir perjalanan. Namun setidaknya, hari itu dua satwa telah bergerak satu langkah lebih dekat menuju kehidupan yang semestinya.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto 
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun

24 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait