Cari Jejak Macan Tutul di Gunung Wilis, Kamera Ungkap Cerita Lain

Agus Irwanto
Cari Jejak Macan Tutul di Gunung Wilis, Kamera Ungkap Cerita Lain

Ponorogo - Macan Tutul Jawa yang dicari tak kunjung muncul di layar. Sebanyak 80 kamera pengintai yang ditempatkan pada 40 petak survei di Bentang Alam Gunung Wilis belum merekam satu pun satwa tersebut. Tapi kamera-kamera itu tak pulang dengan tangan kosong.

Rekamannya justru membuka cerita lain. Ada Kijang, Lutung Jawa, Trenggiling, Kucing Kuwuk, burung-burung penghuni lantai hutan, hingga Anjing domestik. Di antara lalu-lalang satwa itu, kamera menangkap sesuatu yang tak kalah penting: aktivitas pemburu dan pemikat burung.

Hasil pendataan Java-Wide Leopard Survey berupa temuan jejak menunjukkan tidak adanya tanda-tanda keberadaan Macan Tutul Jawa, baik itu tapak, cakaran, kaisan, maupun feses. Namun hasil temuan jejak ini menunjukkan adanya 28 temuan satwa lainnya, beberapa diantaranya tandukan Kijang, sosoran Babi Hutan, suara Lutung Jawa.

Meski tidak mendeteksi kehadiran Macan Tutul Jawa pada semua petak survei, bukan berarti Macan Tutul Jawa telah hilang dari Gunung Wilis. Dalam survei satwa liar, tidak terekam kamera bukan berarti tidak ada. 

Hasil itu baru menunjukkan bahwa selama periode survei dan pada petak survei yang diperiksa, macan tutul jawa belum berhasil dideteksi. Justru dari ketidakhadiran itu, sejumlah pertanyaan baru muncul.

Delapan Puluh Mata di Dalam Hutan
Kamera-kamera tersebut dipasang sebagai bagian dari Java-Wide Leopard Survey (JWLS), survei berskala luas untuk memperoleh informasi mengenai macan tutul jawa dan ruang hidupnya. 

Di Bentang Alam Gunung Wilis, sebanyak 80 kamera ditempatkan pada 40 petak survei. Setiap petak dipasang dua kamera dengan posisi saling berhadapan. Bentang surveinya melintasi lima kabupaten: Madiun, Ponorogo, Tulungagung, Kediri, dan Nganjuk.

Pengambilan kamera dilaksanakan pada 15-27 Juli 2026 yang lalu. Empat tim diterjunkan untuk menyisir kembali titik-titik pemasangan. 

Balai Besar KSDA Jawa Timur, KPH Lawu DS dan KPH Kediri turut mendampingi kegiatan bersama Yayasan SINTAS Indonesia selaku project leader. Ada pihak swasta dalam hal ini PT Djarum selaku donor, dan organisasi lokal selaku pelaku utama di tingkat tapak. 

Sebelum bergerak ke lapangan, seluruh tim mendapat pengarahan di basecamp utama, Desa Wotan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo.

Survei ini bukan sekadar perburuan foto seekor macan tutul. JWLS diharapkan dapat memperoleh informasi mengenai struktur populasi Macan Tutul Jawa serta preferensi terhadap satwa mangsanya. Data tersebut diperlukan sebagai bahan untuk menilai Population and Viability Analysis (PVA) sekaligus mendukung pembaruan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Macan Tutul Jawa.

Selain kamera pengintai, kegiatan JWLS juga melakukann pendataan jejak atau tanda-tanda keberadaan macan tutul jawa dan satwa lainnya, serta pengambilan sampel feses untuk analisis genetik.

Ada banyak cara membaca keberadaan satwa liar. Kamera hanyalah salah satunya.

Macan Belum Muncul, Penghuni Lain Bermunculan
Data sementara mencatat tak satu pun dari 40 stasiun mendeteksi Macan Tutul Jawa. Tapi hutan ternyata jauh dari kosong. 

Berdasarkan pemindaian rekaman kamera pengintai secara cepat, Musang Luwak terdeteksi pada 33 dari 40 petak. Kijang muncul pada 30 petak. Monyet Ekor Panjang dan Landak Jawa masing-masing ditemukan pada 29 petak. 

Ada pula Biul Slentek, Musang Rase, Babi, Linsang, Bajing Tiga Garis, Musang Leher Kuning, Tupai, Lutung Jawa, Bajing Kelapa, Garangan Jawa, Kucing Kuwuk, hingga Pelanduk Kancil. Saat ini tim database SINTAS masih melakukan proses identifikasi spesies sehingga hasil akhirnya masih dapat berubah.

Angka menunjukkan jumlah petak tempat suatu jenis terdeteksi. Karena itu, data kamera pengintai tidak dapat serta-merta diterjemahkan sebagai jumlah populasi satwa. Ia lebih menyerupai kepingan informasi, siapa yang masih menggunakan ruang itu dan di bagian mana mereka muncul.

Trenggiling Peusing dalam Gelap
Satu rekaman mendapat perhatian khusus, Trenggiling Peusing, dalam paparan hasil sementara JWLS Gunung Wilis. Satwa bersisik tersebut ditempatkan sebagai salah satu temuan satwa terancam.

Kamera merekamnya ketika melintas di tengah gelap. Keberadaan Trenggiling memperlihatkan bahwa kamera yang dipasang untuk mencari predator ternyata memberikan informasi lebih luas mengenai keanekaragaman hayati Gunung Wilis.

Lutung jawa ikut tertangkap kamera. Begitu pula kucing kuwuk, landak jawa, musang rase, linsang, serta musang leher kuning. Tetapi ada pula penghuni yang berbeda.

Anjing domestik terdeteksi pada sejumlah petak. Kucing domestik juga muncul dalam rekaman. Dokumentasi hasil sementara JWLS bahkan memperlihatkan anjing domestik berada dalam lanskap yang juga digunakan berbagai satwa liar.

Satu bentang alam. Banyak pengguna ruang.

Burung-Burung Ikut Masuk Bingkai
Cerita tidak berhenti pada mamalia. Puyuh Gonggong Jawa terdeteksi pada 15 petak. Ayam Hutan Merah dan Paok Pancawarna masing-masing pada 12 petak. Kamera juga merekam Anis Sisik, Elang Ular Bido, Delimukan Zamrud, Ciung Batu Jawa, Ciung Batu Kecil, Anis Hutan, Cendet Jawa, Cucak Kopi, Merpati, hingga Uncal.

Sebagian terekam kamera dengan cukup jelas. Paok pancawarna berjalan di lantai hutan. Delimukan zamrud muncul di antara serasah. Ayam hutan merah berdiri di antara vegetasi.

Mereka bukan sasaran utama JWLS. Namun justru itulah salah satu nilai kamera pengintai. Sebuah perangkat yang ditempatkan untuk mencari satu spesies dapat membuka jendela menuju komunitas satwa yang lebih luas.

Lalu Manusia Masuk Bingkai
Ada bagian lain dari kartu memori yang membutuhkan perhatian lebih serius.

Manusia. Hasil sementara menunjukkan 10 dari 40 petak survei mendeteksi gangguan di bentang alam Gunung Wilis, berupa aktivitas pemburu, pemburu burung, dan pemikat burung.

Foto-fotonya tersimpan bersama rekaman satwa. Temuan tersebut tidak dapat digunakan untuk menggambarkan seluruh kondisi bentang alam Gunung Wilis. Namun, keberadaannya merupakan informasi penting yang perlu menjadi bagian dari pembacaan kondisi habitat dan tekanan terhadap satwa liar.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc. menilai hasil sementara JWLS perlu dibaca secara utuh, tidak hanya dari berhasil atau tidaknya kamera merekam Macan Tutul Jawa.

“Tidak terekamnya Macan Tutul Jawa pada kamera pengintai bukan alasan untuk buru-buru menyimpulkan bahwa satwa itu tidak ada di Gunung Wilis. Justru seluruh informasi yang diperoleh, keberadaan satwa lain, kondisi habitat, hingga indikasi gangguan, harus dibaca sebagai satu kesatuan. Konservasi Macan Tutul pada akhirnya adalah konservasi bentang alam dan seluruh kehidupan yang menopangnya,” kata Nur Patria.

Menurutnya, rekaman aktivitas perburuan dan pemikatan burung juga menjadi catatan yang perlu ditindaklanjuti secara proporsional melalui penguatan pengelolaan, pemantauan, serta pendekatan kepada para pihak di tingkat tapak.

“Kita tidak hanya mencari di mana macan tutul berada. Kita juga harus memahami apakah ruang hidupnya masih cukup aman, apakah satwa mangsanya masih tersedia, dan tekanan apa yang terjadi di dalam bentang alam. Data seperti inilah yang membantu pengelolaan bergerak berdasarkan fakta lapangan,” tambahnya.

Ketiadaan Juga Sebuah Data
Pertanyaan kemudian kembali kepada sasaran utama survei. Ke mana Macan Tutul Jawa? Data sementara belum dapat menjawabnya.

Yang dapat dinyatakan untuk saat ini hanyalah: Macan Tutul Jawa belum terekam pada 40 stasiun kamera pengintai yang diperiksa dalam kegiatan tersebut. Tidak lebih.

Menyimpulkan Macan Tutul Jawa tidak ada di Gunung Wilis hanya dari hasil itu akan terlalu dini, karena satwa liar bergerak dalam ruang yang luas. Peluang sebuah kamera bertemu dengan satwa dipengaruhi beberapa faktor seperti lokasi pemasangan, luas wilayah jelajah, karakter habitat, waktu survei, hingga perilaku satwa itu sendiri.

Karena itu, hasil tanpa deteksipun tetap memiliki nilai. Data tersebut perlu dibaca bersama distribusi satwa lainnya, kondisi tutupan dan konektivitas habitat, tekanan manusia, temuan lapangan, serta informasi ilmiah lain yang tersedia.

Di titik itulah JWLS menjadi lebih dari sekadar memasang kamera. Ia adalah usaha membaca sebuah bentang alam.

Cerita Lain dari Gunung Wilis
Delapan puluh kamera kini telah kembali dari hutan, dan sang Macan belum muncul di dalam bingkai. Namun kartu memori membawa cerita lain tentang satwa-satwa yang melintas didepannya.

Ada kehidupan. Ada pula tekanan. Dua wajah itulah yang sementara terbaca dari Gunung Wilis.

JWLS pada akhirnya mengingatkan bahwa konservasi Macan Tutul Jawa tidak cukup dilakukan dengan menghitung berapa kali sang predator tertangkap kamera. Tetapi juga dengan menjaga hutan, mangsa, konektivitas habitat, dan ruang yang membuat seluruh kehidupan di dalamnya masih mungkin bertahan.

Dan akhirnya ada satu pertanyaan besar yang tertinggal: masih seberapa baik Gunung Wilis mampu menjadi rumah bagi kehidupan liar? Dan mungkin pertanyaan itulah yang perlu dijawab sebelum pencarian berikutnya dimulai.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun

33 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait