Bukan Sekadar Praktik, Hutan Bawean Ubah Cara Pandang dan Tumbuhkan Keberanian

Agus Irwanto
Bukan Sekadar Praktik, Hutan Bawean Ubah Cara Pandang dan Tumbuhkan Keberanian

Bawean, 10 Agustus 2026 - Rencana awalnya sederhana. Datang ke Pulau Bawean, menjalani kerja praktik, belajar bersama petugas konservasi, lalu pulang sesuai jadwal. Namun alam rupanya punya cara sendiri untuk memperpanjang pelajaran.

Empat mahasiswa Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) memulai kerja praktik bersama Balai Besar KSDA Jawa Timur di Pulau Bawean pada 18 Juli 2026. Masing – masing Disa Naufalia Difani, Dina Aulia Rachma, Amira, dan Viradila Erika Firnanda.

Mereka seharusnya meninggalkan pulau pada 27 Juli. Cuaca yang kurang bersahabat membuat jadwal kapal tertunda. Hari kepulangan bergeser. Kerja praktik yang semula direncanakan tak lebih dari sepuluh hari akhirnya berlanjut hingga 6 Agustus 2026.

Bagi orang yang sedang menunggu kapal, tambahan hari mungkin terasa panjang. Bagi empat mahasiswa biologi itu, waktu tambahan tersebut justru membuka pintu lebih lebar untuk mengenal Bawean.

Mereka tidak hanya melihat konservasi dari meja kerja. Bersama petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur, mereka diajak menyusuri kawasan, mengikuti SMART Patrol, mengamati keanekaragaman hayati, membaca tanda-tanda keberadaan satwa, hingga mengikuti kegiatan lapangan selepas matahari tenggelam.

Di sanalah teori yang mereka bawa dari kampus mulai bertemu dengan kenyataan.

Jejak yang Bercerita
Bagi Disa Naufalia Difani, salah satu pengalaman yang sulit dilupakan terjadi ketika mengikuti SMART Patrol. Di lantai hutan, ia menemukan sesuatu yang bagi orang awam mungkin hanya bekas pijakan atau guratan biasa.

Ada jejak Babi Kutil Bawean (Sus blouchi). Ada pula bekas goresan tanduk Rusa Bawean (Axis kuhlii) pada batang pohon. Dua satwa yang menjadi bagian penting dari kekayaan hayati Bawean itu tidak selalu mudah dijumpai secara langsung. 

Namun mereka meninggalkan tanda. Dari jejak itulah petugas mengajarkan bagaimana keberadaan dan aktivitas satwa dapat dikenali tanpa harus berjumpa dengan individunya.

Perjumpaan lain datang dari langit. Disa berkesempatan melihat Elang Ular Bido Bawean (Spilornis cheela baweanus), Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus) secara langsung. Burung pemangsa yang sebelumnya lebih akrab baginya melalui literatur dan gambar itu kini hadir di depan mata, terbang di bentang alam Bawean.

Pengalaman sederhana itu membekas.

“Selama ini saya lebih banyak belajar di laboratorium. Ketika ikut SMART Patrol, saya bisa melihat langsung jejak babi kutil, goresan tanduk rusa Bawean, sampai Sikep Madu Asia yang sebelumnya belum pernah saya lihat langsung. Dari sini saya merasa ilmu yang dipelajari ternyata jauh lebih luas ketika kita turun sendiri ke lapangan di banding saat di kampus,” tutur Disa.

Bawean kemudian menggeser sedikit cara Disa melihat masa depannya sebagai mahasiswa biologi. Laboratorium tetap penting, tetapi ia mulai melihat bahwa hutan juga merupakan laboratorium, hanya saja tanpa dinding dan dengan variabel kehidupan yang jauh lebih kompleks.

“Ke depan saya ingin tidak hanya fokus di laboratorium. Saya ingin lebih peduli dan ikut langsung dalam upaya menjaga apa pun yang ada di dalam hutan, baik flora maupun fauna,” lanjutnya.

Keberanian yang Tumbuh di Hutan
Cerita berbeda datang dari Dina Aulia Rachma. Sebelum menginjakkan kaki di Bawean, pengalaman lapangannya masih terbatas. Praktikum lebih banyak berlangsung di laboratorium dan beberapa kali di kawasan mangrove. Masuk jauh ke dalam hutan, menyusuri jalur yang tidak selalu mudah, apalagi berkegiatan hingga malam, adalah pengalaman baru.

Ia bahkan tidak menyangka kerja praktik akan membawanya sejauh itu. Bagi Dina, hutan Bawean bukan hanya menguji pengetahuan. Ia menguji keberanian.

Salah satu batas yang akhirnya berhasil ia lewati adalah rasa takut terhadap ular. Ketika petugas menjumpai dan memperkenalkan ular dalam kegiatan lapangan, Dina awalnya memilih menjaga jarak. Petugas kemudian menjelaskan karakter satwa, prinsip keselamatan, serta cara penanganan yang benar.

Tidak ada paksaan. Pengetahuan datang lebih dulu, keberanian menyusul kemudian. Dengan pendampingan petugas, Dina akhirnya memberanikan diri memegang ular.

“Saya sebelumnya belum pernah masuk ke hutan yang benar-benar seperti ini. Saya juga tidak menyangka akan mengikuti kegiatan sampai malam. Awalnya takut, terutama ketika berhadapan dengan ular. Tetapi setelah dijelaskan dan didampingi petugas, akhirnya saya berani mencoba memegangnya,” kata Dina.

Bagi Dina, keberanian kecil itu memiliki arti besar. Ia menyadari bahwa kerja lapangan bukan semata persoalan fisik. Ada kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, bekerja dalam tim, mengendalikan rasa takut, dan mengambil keputusan dengan tenang.

“Yang paling terasa justru soft skill-nya. Saya jadi lebih berani berkegiatan di lapangan dan lebih percaya diri mencoba sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya lakukan,”  ujarnya.

Ketika Malam Menjadi Ruang Belajar
Ketika sebagian aktivitas manusia mulai berhenti selepas senja, hutan justru memasuki babak kehidupan yang berbeda. Malam itulah yang memberikan pengalaman tersendiri bagi Amira dan Viradila Erika Firnanda.

Keduanya berkesempatan mengikuti kegiatan identifikasi kelelawar bersama Lita Febri Riyani mahasiswa Jurusan Kehutanan Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya  di kawasan Suaka Alam Pulau Bawean. Di bawah pendampingan petugas, mereka mengenal proses penanganan kelelawar secara langsung, termasuk bagaimana melakukan handling dengan tepat dan berhati-hati.

Pengalaman tersebut memberikan gambaran yang berbeda dibandingkan ketika satwa hanya dipelajari melalui foto, spesimen, atau buku identifikasi.

Ada satwa hidup di tangan mereka. Ada keselamatan manusia yang harus diperhatikan. Pada saat yang sama, ada kesejahteraan satwa yang tidak boleh diabaikan.

“Yang paling berkesan bagi saya adalah ketika ikut identifikasi kelelawar. Saya jadi tahu bagaimana cara handling yang benar. Ternyata memegang satwa untuk kepentingan identifikasi tidak bisa sembarangan. Harus tahu caranya dan tetap memperhatikan kondisi satwanya,” tutur Amira.

Viradila Erika Firnanda merasakan pengalaman serupa. Kesempatan mengikuti identifikasi kelelawar membuatnya melihat sisi lain pekerjaan biologi lapangan: ketelitian dan tanggung jawab. 

“Saya mendapat pengalaman yang hampir sama. Dari kegiatan identifikasi kelelawar saya belajar bagaimana menangani satwa secara langsung dan memahami bahwa setiap proses harus dilakukan dengan hati-hati. Ini menjadi pengalaman baru yang sangat berkesan selama kerja praktik di Bawean,” ungkap Viradila.

Bagi Amira dan Viradila, kelelawar malam itu bukan semata objek identifikasi. Satwa-satwa tersebut menjadi pengingat bahwa mempelajari kehidupan berarti pula belajar menghargai kehidupan itu sendiri.

Ketika Kawasan Konservasi Menjadi Ruang Belajar
Disa belajar membaca jejak. Dina belajar menaklukkan rasa takut. Amira dan Viradila belajar bahwa menyentuh satwa liar membawa tanggung jawab. Empat pengalaman itu berbeda, tetapi tumbuh dari tempat yang sama: kawasan Suaka Alam Pulau Bawean.

Kerja praktik akhirnya tidak berhenti pada urusan memenuhi kewajiban akademik. Pertemuan dengan petugas, perjalanan masuk hutan, kegiatan hingga malam, perjumpaan dengan satwa, bahkan jadwal kapal yang tertunda menjadi bagian dari proses belajar yang mungkin sulit ditemukan dalam satu mata kuliah.

Di sinilah kawasan konservasi memperlihatkan fungsi lain yang sering luput dibicarakan. Selain menjadi ruang perlindungan bagi proses-proses alami dan keanekaragaman hayati, kawasan juga dapat menjadi ruang belajar bagi generasi yang suatu hari nanti akan meneruskan pekerjaan konservasi.

Petugas tidak sekadar menunjukkan nama spesies. Mereka berbagi cara membaca tanda di hutan, bekerja dalam kondisi lapangan, memperlakukan satwa dengan benar, serta memahami bahwa keselamatan manusia dan kesejahteraan satwa harus berjalan beriringan.

Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, membuka ruang belajar seperti ini menjadi bagian penting dalam menumbuhkan generasi muda yang memahami konservasi bukan hanya dari definisinya, tetapi dari pengalaman nyata.

Sebab investasi terbesar dalam konservasi bukan hanya menjaga kawasan hari ini, melainkan juga menyiapkan generasi yang kelak melanjutkan estafet perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia.

Pada akhirnya, cuaca memang membuat empat mahasiswa itu tinggal lebih lama di Bawean dari rencana semula. Kapal terlambat membawa mereka pulang. Namun barangkali justru karena itulah mereka mendapat waktu lebih panjang untuk belajar.

Mereka datang membawa teori dari kampus. Mereka pulang membawa jejak lumpur di sepatu, cerita dari dalam hutan, pengalaman memegang satwa dengan tangan sendiri, keberanian yang sebelumnya belum mereka miliki, dan cara pandang yang tak lagi sama.

Bukan sekadar praktik. Sebab terkadang, hutan adalah ruang kelas terbaik untuk memahami arti menjaga kehidupan.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto

43 views
1 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (1)

Tinggalkan Komentar

Cak Kriwul

semangat dulur

Artikel Terkait