Belajar Batas Hutan, 35 Anggota Saka Wanabakti Banyuwangi Tempuh SKK Konservasi

Agus Irwanto
Belajar Batas Hutan, 35 Anggota Saka Wanabakti Banyuwangi Tempuh SKK Konservasi
Dua Saka Wanabakti di Banyuwangi mengikuti latihan kecakapan konservasi kawasan. Setelah lulus, mereka membawa satu tugas lain, meneruskan pengetahuan itu ke sekolah masing-masing.

Banyuwangi - Menjadi anggota Saka Wanabakti tidak cukup hanya mengenal hutan dari seragam dan kegiatan lapangan. Mereka juga perlu memahami mengapa sebuah kawasan dilindungi, apa yang boleh dilakukan di dalamnya, dan mengapa ada batas yang harus dihormati.

Pemahaman itu menjadi bagian dari latihan Syarat Kecakapan Khusus (SKK) Konservasi Kawasan yang diikuti 35 anggota Saka Wanabakti Kawah Ijen dan Saka Wanabakti Bhre Wirabhumi di Taman Widya Giri, Kecamatan Giri, Banyuwangi, pada 17–18 Oktober 2026.

Saka Wanabakti Kawah Ijen merupakan binaan BBKSDA Jawa Timur, sedangkan Saka Wanabakti Bhre Wirabhumi dibina Cabang Dinas Kehutanan Banyuwangi.

Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Kehutanan BBKSDA Jawa Timur Ainy Amelya Utami menjadi instruktur materi konservasi kawasan. Peserta diajak memahami pengertian konservasi, tiga pilar konservasi, ragam kawasan konservasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024, hingga contoh kawasan konservasi di Jawa Timur.

Tidak berhenti pada definisi, pembelajaran juga membahas kegiatan yang diperbolehkan maupun yang tidak diperbolehkan di dalam kawasan konservasi.

Dari Wanabakti, Kembali ke Sekolah
Suasana latihan berlangsung interaktif. Peserta aktif bertanya, berdiskusi, serta menjawab sejumlah soal yang diberikan instruktur.

Kegiatan itu dilaksanakan bersamaan dengan Jamboree on the Air–Jamboree on the Internet (JOTA-JOTI), yang mempertemukan semangat kepramukaan dengan komunikasi dan pembelajaran lintas ruang. Pada akhir kegiatan, peserta yang dinyatakan telah menyelesaikan latihan menerima tanda kecakapan konservasi kawasan.

Namun tanda kecakapan bukan akhir dari proses belajar. Para anggota Saka Wanabakti Kawah Ijen selanjutnya diharapkan membawa pengetahuan yang diperoleh kembali ke sekolah masing-masing dan membagikannya kepada teman sebaya.

Di situlah nilai penting kegiatan ini berada. Konservasi tidak hanya membutuhkan petugas yang menjaga kawasan, tetapi juga generasi muda yang memahami alasan kawasan itu perlu dijaga.

Karena sebuah tanda kecakapan boleh terpasang di seragam. Tetapi kecakapan yang sesungguhnya baru terlihat ketika pengetahuan tentang konservasi ikut dibawa pulang dan dibagikan kepada orang lain.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto 
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember

13 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait