Api Sudah Pergi, Jejaknya Tertinggal di Alas Timur

Bawean - Api tidak lagi menyala ketika petugas tiba. Tidak ada asap. Tidak ada bara. Yang tersisa hanyalah tanah menghitam dan vegetasi jati yang meninggalkan tanda bahwa api pernah lewat di salah satu batas Suaka Margasatwa Pulau Bawean.
Jejak kebakaran itu ditemukan di Blok Alas Timur, Grid 941 Smart Patrol, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik, pada Kamis, 17 September 2026. Luas areal terdampak sementara sekitar 0,25 Ha.
Menariknya, informasi pertama mengenai kejadian tersebut bukan datang dari laporan lapangan, melainkan dari media sosial. Sehari sebelumnya, 16 September 2026, sebuah video yang diunggah melalui akun TikTok @riyonboyan memperlihatkan indikasi adanya kebakaran di kawasan Pulau Bawean.
Pada saat informasi tersebut diketahui, Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean masih berada di lokasi lain. Mereka tengah menyelesaikan penanganan kebakaran di Blok Teneden, Desa Sokaoneng, Kecamatan Tambak. Karena itu, penelusuran baru dapat dilakukan keesokan harinya.
Mencari Api yang Sudah Tidak Ada
Pagi 17 September 2026, petugas terlebih dahulu menggali informasi dari masyarakat di sekitar lokasi. Namun warga yang ditemui mengaku tidak mengetahui adanya kejadian kebakaran. Satu-satunya petunjuk yang dimiliki tim adalah rekaman video dan gambaran lokasi.
Personel kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Satu tim bergerak menyisir bagian barat Pulau Bawean, sementara tim lain menelusuri sisi timurnya. Pencarian akhirnya menemukan jawabannya.
Di Blok Alas Timur, tepat di sekitar batas kawasan dan tidak jauh dari jalan setapak yang kerap menjadi akses masyarakat, ditemukan hamparan vegetasi yang telah menghitam terbakar.
Vegetasi yang terdampak didominasi jati. Berdasarkan pengukuran sementara, luasan bekas kebakaran mencapai sekitar seperempat hektar. Namun saat diperiksa, lokasi sudah dalam kondisi padam. Tidak ditemukan nyala api maupun bara aktif.
Siapa Membawa Api ke Batas Kawasan? Pertanyaan berikutnya jauh lebih sulit dijawab.
Dari mana api berasal? Lokasi kebakaran yang berdekatan dengan jalur setapak masyarakat memang membuka berbagai kemungkinan. Namun hingga pemeriksaan lapangan selesai, tidak ditemukan bukti yang cukup untuk menyimpulkan penyebabnya.
Karena itu, dugaan mengenai pembakaran maupun puntung rokok tidak dapat serta-merta dijadikan kesimpulan. Tim RKW 09 Gresik Bawean, BBKSDA Jawa Timur masih melakukan pengumpulan informasi.
Dalam penanganan kebakaran hutan, menemukan bekas api terkadang lebih mudah daripada menemukan awal mula api itu sendiri. Satu percikan dapat berlangsung hanya beberapa detik. Tetapi bekas yang ditinggalkannya dapat bertahan jauh lebih lama.
Ketika Media Sosial Menjadi Mata Pertama
Kasus Alas Timur juga menghadirkan pelajaran lain. Di era ketika hampir setiap orang membawa kamera di tangannya, sebuah unggahan media sosial dapat menjadi informasi awal bagi pengelola kawasan.
Video singkat yang beredar di ruang digital akhirnya membawa petugas masuk ke lapangan, menelusuri batas kawasan, dan menemukan lokasi yang sebelumnya belum dilaporkan masyarakat.
Namun informasi digital tetap harus berhenti menjadi sekadar kabar dan berubah menjadi fakta lapangan. Itulah sebabnya petugas tetap melakukan pengecekan langsung, mengambil koordinat, mengukur luasan terdampak, mendokumentasikan kondisi, serta menggali keterangan masyarakat sebelum membuat kesimpulan.
Padam Bukan Berarti Selesai
Meskipun kondisi Alas Timur telah kondusif, kewaspadaan tidak dihentikan. Patroli pada jalur batas kawasan akan ditingkatkan. Areal bekas kebakaran tetap dipantau untuk memastikan tidak terjadi penyalaan kembali. Koordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat juga diperkuat agar setiap tanda awal kebakaran dapat segera dilaporkan.
Masyarakat di sekitar kawasan kembali diingatkan untuk menghindari aktivitas yang dapat memicu api, terutama pada kondisi vegetasi yang mengering. Bagi kawasan konservasi, seperempat hektar mungkin terlihat kecil jika hanya dibaca sebagai angka.
Namun api tidak pernah memahami batas administrasi, garis grid, ataupun pal kawasan. Sekali mendapat bahan bakar dan angin yang cukup, seperempat hektare dapat menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



