Api Padam di Teneden, Dua Hektare Suaka Margasatwa Bawean Menyisakan Jejak

Agus Irwanto
Api Padam di Teneden, Dua Hektare Suaka Margasatwa Bawean Menyisakan Jejak

Gresik - Api memang tak lagi menjulang. Tetapi pagi di Blok Teneden, Suaka Margasatwa Pulau Bawean memperlihatkan apa yang ditinggalkannya, tanah menghitam, semak terbakar, tunggak kayu masih menyimpan panas, dan sekitar dua hektar kawasan terdampak kebakaran.

Hampir semalam penuh, petugas berjibaku dengan api di Grid 192 SMART Patrol, Blok Teneden, yang secara administratif berada di Dusun Paseran, Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik.

Kobaran utama berhasil dikendalikan pada Rabu dini hari, 16 September 2026, pukul 02.41 WIB. Namun bagi tim di lapangan, padamnya nyala bukan berarti pekerjaan selesai. Justru ketika api tak lagi terlihat, ancaman berikutnya bersembunyi di bawah arang. 

Tunggak pohon, kayu lapuk, dan serasah yang terbakar dapat menyimpan bara. Sedikit angin dan bahan bakar kering di sekitarnya cukup untuk membuat api kembali hidup. Karena itulah, pagi itu penyisiran dilanjutkan.

Tiga personel Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari bergabung memperkuat tim RKW 09 Gresik Bawean, KPH Bawean Lestari dan Universitas Islam Sunan Ampel (UINSA), sehingga total 11 personel bergerak melakukan mop-up. Tiga unit jet shooter dan peralatan lapangan digunakan untuk membasahi serta mematikan titik-titik panas yang masih tersisa.

Mereka bukan bekerja di medan yang mudah. Blok Teneden memiliki kontur terjal dan curam dengan vegetasi cukup rapat. Jati, ngos-ngos, tanjeng gunung, kenari, sempel geddeng, pangopa hingga semak belukar menjadi bagian dari bentang vegetasi yang harus disisir. Di tengah keterbatasan air, setiap tunggak dan kayu lapuk harus diperiksa karena bara dapat bertahan tanpa memperlihatkan nyala di permukaan.

Api Datang dari Perbatasan Kawasan
Informasi yang dihimpun dari masyarakat yang beraktivitas di lahan pertanian berbatasan dengan kawasan menyebutkan bahwa api pertama kali terlihat pada Selasa, 15 September 2026, sekitar pukul 16.00 WIB.

Warga sempat berupaya melakukan pemadaman secara mandiri. Namun api belum berhasil dikendalikan.

Kebakaran juga menjalar pada sebuah kandang sapi. Satu kandang habis terbakar. Dari tiga ekor sapi yang berada di lokasi, dua berhasil selamat tanpa luka, sementara satu lainnya mengalami luka bakar.

Ketika informasi kebakaran diterima, delapan orang kemudian terlibat dalam penanganan malam hari: dua personel RKW 09 Gresik–Bawean, seorang MMP, seorang personel KPH Bawean Lestari, serta empat mahasiswa UINSA. Mereka bergerak di tengah gelap menuju titik kebakaran di ketinggian sekitar 176,61 mdpl.

Berdasarkan informasi sebelumnya, tim masih melakukan pendinginan dengan menyisir tunggak-tunggak yang berpotensi menyimpan bara sekaligus mulai menelusuri penyebab serta luasan terdampak. Pekerjaan itu berlanjut hingga siang hari.

Satu Bara yang Tak Dipaksakan
Sekitar pukul 12.00 WIB, penyisiran lapangan menunjukkan tidak lagi terdapat api maupun potensi perambatan yang terpantau. Masih ada satu titik bara pada sepotong kayu di tebing yang sangat curam.

Tim tidak memaksakan diri mendekatinya. Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan posisi bara, kondisi bahan bakar di sekelilingnya, sekaligus risiko keselamatan personel. Hasil penilaian bersama menunjukkan bara tersebut tidak memiliki kondisi yang memungkinkan api berkembang dan merambat lebih jauh.

Dalam pemadaman kebakaran hutan, keberanian tidak selalu berarti maju mendekati api. Ada saat ketika membaca medan, menghitung risiko, dan memilih tidak mempertaruhkan keselamatan personel justru menjadi keputusan paling penting.

Setelah hampir dua puluh jam sejak api pertama kali diketahui masyarakat, operasi pemadaman dan mop-up akhirnya dihentikan pada pukul 12.00 WIB. Pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan tidak terjadi penyalaan kembali.

Dua Hektar yang Belum Selesai Bercerita
Luas kawasan terdampak untuk sementara diperkirakan sekitar dua hektar. Angka tersebut masih memerlukan verifikasi lapangan lebih lanjut. Pun penyebab kebakarannya.

Hingga penanganan dinyatakan selesai, BBKSDA Jawa Timur belum menyimpulkan sumber api. Pengumpulan informasi di lapangan masih dilakukan sehingga setiap kesimpulan mengenai penyebab kebakaran harus menunggu fakta yang cukup. 

Kebakaran di kawasan suaka alam bukan semata persoalan berapa hektar tanah yang berubah hitam. Di dalam bentang yang terbakar terdapat vegetasi, mikrohabitat, organisme tanah, satwa liar dan berbagai hubungan ekologis yang tidak selalu terlihat ketika api masih menyala.

Karena itu, luasan dua hektare hanyalah angka awal. Dampak ekologisnya masih perlu dilihat lebih jauh.

Blok Teneden akhirnya kembali tanpa kobaran pada siang 16 September 2026. Namun bekas hitam yang tertinggal membawa pengingat yang jauh lebih panjang, bahwa di kawasan konservasi, api mungkin dapat dipadamkan dalam hitungan jam, tetapi alam membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk menghapus jejaknya.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto 
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

19 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait