Api Kembali Muncul di Ijen, Bara Masih Dijaga di Lereng Widodaren

Agus Irwanto
Api Kembali Muncul di Ijen, Bara Masih Dijaga di Lereng Widodaren
Api yang muncul dari sisi Banyupahit bergerak menuju lereng Widodaren. Pagi ini nyala sudah tidak terlihat, tetapi petugas masih melakukan mopping up pada batang-batang kayu yang menyimpan bara.

Banyuwangi - Api kembali mendatangi Ijen. Rabu, 28 Oktober 2026, sekitar pukul 14.00 WIB, kebakaran terpantau di Blok Banyupahit, Cagar Alam Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup. Titik awal terlihat dari sekitar tepi jalan aspal, kemudian api bergerak mengikuti lereng menuju Widodaren.

Medan curam dan posisi api di balik lembahan membuat pemadaman langsung tidak mudah dilakukan. Hingga sore, api masih terlihat. Petugas memilih menjaga jalur yang berpotensi menjadi arah rambatan sambil menempatkan keselamatan sebagai batas utama operasi.

Pagi berikutnya, Kamis, 29 Oktober, situasi berubah. Nyala api tidak lagi terlihat. Namun kepulan asap masih muncul dari bekas kebakaran di lereng Widodaren. Beberapa batang kayu roboh masih menyimpan bara sehingga petugas melakukan mop up untuk mencegah penyalaan kembali.

Api diketahui sempat bergerak melalui alur air menuju bagian atas, mengarah ke sekitar sumber air Broom. Rambatan kemudian berhenti ketika mencapai vegetasi yang masih hijau. Tegakan cemara pada jalur panjang juga terpantau aman.

Belum ada kesimpulan mengenai penyebab kebakaran. Posisi awal api di sekitar tepi jalan menjadi informasi penting untuk pendalaman, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa kebakaran sengaja dilakukan.

Ijen yang Belum Selesai dengan Api
Kebakaran kali ini datang hanya beberapa pekan setelah rangkaian panjang karhutla di bentang Ijen.

Pada September, kebakaran di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Kawah Ijen terdampak sekitar 1.505 hektar menurut catatan BBKSDA Jawa Timur. Kawasan wisata bahkan sempat ditutup lebih dari tiga pekan sebelum kembali dibuka pada 28 September.

Api kemudian muncul lagi di Blok Cangkringan pada 11 Oktober. Saat itu petugas juga memilih tidak memaksakan pemadaman pada malam hari karena medan terjal dan jarak pandang terbatas.

Pengalaman tersebut mengubah cara membaca kebakaran di Ijen.

Persoalannya bukan hanya bagaimana memadamkan api ketika sudah membesar, tetapi bagaimana menyiapkan ruang agar rambatan dapat diputus sebelum mencapai fasilitas, jalur kunjungan, maupun bagian kawasan yang masih memiliki bahan bakar melimpah.

Di sekitar area Pengusahaan Pariwisata Alam SPS, sekat bakar telah dibuat sejak kejadian sebelumnya. Sejumlah embung juga disiapkan sebagai cadangan air apabila kebakaran kembali mendekat.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan tersebut.

“Kalau mendekati SPS, koordinasi dengan mereka agar buat sekat bakar. Ingat, safety first,”  tegasnya.

Pesannya singkat, tetapi pengalaman kebakaran sepanjang dua bulan terakhir membuat maknanya sangat konkret. Sekat bakar dapat dibuat. Embung dapat disiapkan. Tim dapat ditempatkan pada jalur rambatan. 

Namun tidak ada target pemadaman yang sepadan dengan mempertaruhkan keselamatan personel pada lereng terjal, angin yang berubah, dan api yang bergerak di balik lembahan.

Padam Belum Berarti Selesai
Tidak terlihatnya api pada Kamis pagi belum membuat pengawasan dihentikan. Batang pohon yang telah roboh dapat menyimpan panas jauh lebih lama daripada nyala di permukaan. 

Angin dan material kering dapat menghidupkannya kembali jika pendinginan tidak dilakukan dengan baik. Itulah sebabnya mop up menjadi pekerjaan penting setelah api terlihat padam.

Ijen telah beberapa kali memperlihatkan pola yang sama: nyala dapat hilang, asap kembali muncul, lalu titik api baru terlihat di bagian lain bentang. Karena itu, keberhasilan pengendalian tidak cukup diukur dari hilangnya api dalam satu pagi.

Ia juga diukur dari seberapa baik kawasan dijaga setelahnya, bara diperiksa, bahan bakar dipetakan, sekat dipertahankan, sumber air disiapkan, dan manusia tidak mengambil risiko yang tidak perlu.

Di Ijen, pelajaran dari api semakin jelas: memadamkan kebakaran adalah pekerjaan hari ini. Mencegahnya kembali menjadi bencana adalah pekerjaan yang dimulai jauh sebelum asap berikutnya terlihat.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto 
Sumber : Posko Dalkarhut – Balai Besar KSDA Jawa Timur

25 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait