Anakan Trenggiling di Tepi Sawah, Membaca Lanskap Liar Ponorogo

Seekor trenggiling muda ditemukan di antara sawah dan permukiman Desa Kemiri. Perjumpaan singkat itu mengingatkan bahwa ruang hidup satwa liar tidak selalu berhenti di batas hutan.
Ponorogo - Ia tidak ditemukan jauh di dalam hutan. Seekor anakan Trenggiling (Manis javanica) justru muncul di pinggir sawah, tak jauh dari rumah warga Desa Kemiri, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Lukman Abdul Ngaziz yang menemukannya memilih mengamankan satwa sementara, lalu menghubungi Call Center BBKSDA Jawa Timur. Tim MATAWALI Bidang KSDA Wilayah I Madiun kemudian menerima trenggiling jantan tersebut untuk penanganan lebih lanjut.
Untuk sementara, satwa ditempatkan di kandang transit.
Bagaimana anakan itu sampai ke tepi persawahan belum diketahui. Tidak ada cukup bukti untuk mengatakan ia tersesat, kehilangan induk, terusir dari habitat, atau sedang bergerak mengikuti jalur tertentu. Namun secara ekologis, lokasi perjumpaannya menarik.
Trenggiling bukan mamalia yang kehidupannya mutlak terbatas pada hutan primer. Manis javanica dapat menggunakan hutan primer dan sekunder, semak, hutan rawa, bahkan lanskap yang telah dimodifikasi manusia seperti perkebunan dan kebun. Ia merupakan satwa soliter, terutama aktif malam hari, dan mencari semut serta rayap di tanah maupun pepohonan.
Karena itu, kemunculan seekor trenggiling di tepian sawah tidak serta-merta aneh. Dalam bentang pedesaan Jawa, hutan, kebun, rumpun bambu, semak, saluran air, pekarangan, dan lahan pertanian dapat membentuk mosaik ruang yang dilalui satwa. Bagi trenggiling, bagian-bagian tertentu dari lanskap semacam itu mungkin menyediakan tempat berlindung ataupun sumber pakan.
Tetapi satu individu belum cukup untuk menyebut persawahan Kemiri sebagai habitat, koridor pergerakan, apalagi lokasi berkembang biak. Temuan anakan justru melahirkan pertanyaan.
Apakah masih terdapat tutupan vegetasi alami atau kebun yang cukup rapat di sekitarnya? Adakah sarang rayap dan semut yang menjadi sumber pakan? Dari mana ia datang? Dan seberapa jauh trenggiling masih menggunakan lanskap pertanian permukiman Jenangan? Jawabannya membutuhkan pemantauan, bukan dugaan.
Satwa yang Jarang Terlihat, tetapi Sangat Terancam
Trenggiling termasuk mamalia yang sulit dipantau karena sifatnya soliter, cenderung nokturnal, dan tersembunyi. Bahkan informasi mengenai populasi liar trenggiling di banyak wilayah masih terbatas.
IUCN menempatkan Manis javanica dalam kategori Critically Endangered, atau Kritis, dengan eksploitasi dan perdagangan ilegal sebagai tekanan utama terhadap populasinya. Semua spesies trenggiling juga telah masuk Appendix I CITES.
Untuk spesimen yang berasal dari alam, perdagangan internasional komersial pada prinsipnya dilarang. Perlindungan tersebut mencerminkan besarnya tekanan perdagangan terhadap kelompok satwa ini. Itulah yang membuat setiap catatan perjumpaan bernilai.
Bukan untuk langsung mengatakan bahwa populasi masih banyak, melainkan untuk menambah potongan informasi mengenai di mana satwa itu masih muncul dan bagaimana ia menggunakan lanskap yang terus berubah.
Catatan lokasi dapat dikembangkan melalui pemetaan perjumpaan, wawancara masyarakat yang terverifikasi, pemeriksaan tanda keberadaan, dan bila diperlukan pemasangan camera trap pada habitat potensial. Dengan data berulang, barulah gambaran tentang ruang hidup trenggiling di bentang Ponorogo mulai terbentuk.
Warga sebagai Mata Pertama
Pada akhirnya, cerita dari Kemiri tidak dimulai dari survei ilmiah atau kamera jebak. Ia dimulai dari seorang warga yang melihat satwa kecil di tepi sawah dan memilih melapor.
Tindakan sederhana semacam itu penting karena satwa liar yang memasuki ruang manusia tidak selalu perlu ditangkap, dipindahkan, atau dipelihara. Penanganannya harus mengikuti kondisi satwa dan konteks tempat ditemukannya.
Untuk anakan trenggiling Kemiri, perjalanan berikutnya masih menunggu hasil penanganan. Tetapi perjumpaan itu meninggalkan satu catatan penting tentang bentang alam Ponorogo.
Sawah mungkin milik manusia. Hutan mungkin memiliki batas di peta. Namun bagi trenggiling yang bergerak malam-malam mencari makan dan tempat berlindung, lanskap adalah rangkaian ruang yang saling terhubung.
Dan mungkin, daripada bertanya mengapa trenggiling datang ke sawah, pertanyaan yang lebih penting adalah ruang seperti apa yang masih tersisa di antara hutan, kebun, dan permukiman agar ia tetap dapat bergerak tanpa harus terlalu sering bertemu manusia?
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



