Alam Tak Bisa Dijaga Sendirian, HKAN 2026 Mengingatkan Kita untuk Kembali Bekerja Bersama

Agus Irwanto
Alam Tak Bisa Dijaga Sendirian, HKAN 2026 Mengingatkan Kita untuk Kembali Bekerja Bersama
Hari Konservasi Alam Nasional bukan sekadar perayaan tentang alam yang telah berhasil dijaga. Ia adalah pengingat bahwa masih banyak kehidupan yang membutuhkan ruang, kepedulian, dan keberanian kita untuk menjaganya

Sidoarjo, 10 Agustus 2026. Menjaga alam hampir tidak pernah menjadi pekerjaan yang selesai dalam satu hari. Ada petugas yang pagi-pagi sudah masuk hutan untuk memeriksa batas kawasan. Ada yang bergerak ketika telepon berdering malam hari karena seekor satwa liar ditemukan terluka. 

Di tempat lain, masyarakat datang membawa satwa yang selama ini dipelihara dan menyerahkannya dengan sukarela. Sementara mahasiswa dan peneliti menghabiskan waktu berjam-jam mengukur, mencatat, memotret, atau sekadar menunggu sesuatu bergerak di balik tajuk.

Banyak dari pekerjaan itu tidak terlihat. Tidak semuanya menghasilkan gambar yang menarik. Tidak semuanya menjadi berita. Bahkan tidak sedikit yang berakhir tanpa temuan apa pun. Tetapi konservasi memang sering bekerja seperti itu: pelan, panjang, dan terkadang hening.

Hari ini, 10 Agustus 2026, pekerjaan-pekerjaan tersebut menemukan ruang untuk direnungkan kembali melalui peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN). Tahun ini, semangat “Konservasi Alam, Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia” membawa satu pesan yang terasa semakin relevan, tentang alam yang luas dan persoalannya cukup kompleks untuk diserahkan kepada satu institusi saja.

Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, kalimat kerja bersama itu bukan perkara membagi pekerjaan. Lebih dari itu, ia adalah cara memandang konservasi. Sebab hutan tidak pernah berdiri sendiri. Ia terhubung dengan sungai, desa, sawah, kebun, pesisir, laut, satwa liar, dan manusia yang hidup di sekelilingnya.

Begitu pula konservasi.

Konservasi yang Keluar dari Pagar Kawasan
Selama bertahun-tahun, konservasi kerap dibayangkan sebagai urusan menjaga kawasan, mulai memasang pal batas, melakukan patroli, mencegah perburuan, atau memastikan hutan tetap berdiri. Semua itu tetap penting.

Namun, persoalan konservasi hari ini bergerak jauh melampaui pagar kawasan. Satwa liar dapat keluar dari habitat dan bersinggungan dengan manusia. Perdagangan tumbuhan dan satwa liar bergerak melalui jaringan yang panjang. 

Kebakaran dapat bermula dari luar kawasan. Tumbuhan asing invasif perlahan dapat mengubah komposisi ekosistem. Perubahan tutupan lahan di daerah penyangga dapat memutus hubungan antarkantong habitat.

Air bahkan tidak pernah bertanya apakah ia sedang mengalir di dalam atau di luar kawasan konservasi. Begitu pula burung yang terbang melintasi hutan, kebun, desa, kemudian kembali ke tajuk. 

Alam tidak mengenal batas administrasi sebagaimana manusia menggambarnya di atas peta. Karena itu, menjaga kawasan konservasi tidak mungkin dilakukan dengan memunggungi bentang alam di sekitarnya.

Di Jawa Timur, tantangan tersebut hadir dalam bentuk yang sangat beragam. Ada hutan pegunungan, karst, lahan basah, pesisir, pulau-pulau kecil hingga ekosistem yang berada sangat dekat dengan ruang hidup manusia. Masing-masing membawa persoalan dan membutuhkan cara penanganan yang berbeda.

Tidak ada satu resep konservasi yang dapat digunakan untuk semuanya.

Kerja Bersama Bukan Sekadar Duduk Bersama
Tema HKAN 2026 menjadi penting justru karena kata “bersama” mudah sekali diucapkan. Yang lebih sulit adalah menjadikannya cara bekerja.

Bagi Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., konservasi tidak mungkin lagi diletakkan hanya di pundak petugas.

“Konservasi tidak akan pernah cukup jika hanya dikerjakan oleh petugas. Pemerintah memiliki mandat, tetapi alam kita sangat luas untuk dijaga sendiri. Ada masyarakat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, peneliti, dunia usaha, komunitas, media, dan generasi muda yang semuanya memiliki ruang untuk mengambil bagian,” ujarnya.

Kerja bersama itu bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana
Seorang warga yang melaporkan keberadaan satwa liar sudah menjadi bagian dari konservasi. Mahasiswa yang belajar mengenali keanekaragaman hayati juga sedang mengambil bagian. 

Masyarakat yang memilih tidak menangkap burung, tidak membeli satwa liar, atau menjaga sumber air di desanya melakukan pekerjaan yang mungkin terlihat kecil, tetapi menentukan. Begitu pula peneliti yang menghadirkan data agar keputusan pengelolaan tidak dibuat berdasarkan dugaan.

Konservasi pada akhirnya memang bukan monopoli orang yang memakai seragam. Ia bisa dilakukan siapa saja dan dimana saja.

Communication as Conservation Solution
Ada satu hal lain yang selama beberapa tahun terakhir terus didorong Balai Besar KSDA Jawa Timur bagaimana komunikasi menjadi bagian dari solusi konservasi. Semangat itu dirangkum dalam satu gagasan “Communication as Conservation Solution.”

Konservasi selama ini memiliki banyak cerita baik, tetapi tidak semuanya berhasil sampai kepada masyarakat. Petugas memahami apa yang terjadi di lapangan. Peneliti memiliki data. Pemerintah memiliki kebijakan. Masyarakat mempunyai pengetahuan dan pengalaman hidup berdampingan dengan alam.

Persoalannya, semua pengetahuan itu terkadang berjalan di ruangnya masing-masing. Di sinilah komunikasi menjadi penting.

Bukan sekadar membuat publikasi atau mengunggah kegiatan ke media sosial. Komunikasi konservasi adalah bagaimana bahasa ilmiah dapat dipahami masyarakat, bagaimana kebijakan tidak berhenti sebagai dokumen, bagaimana persoalan lapangan dapat sampai kepada pengambil keputusan, dan bagaimana suara masyarakat dapat didengar dalam pengelolaan kawasan.

Nur Patria melihat komunikasi sebagai jembatan yang sering menentukan berhasil atau tidaknya sebuah upaya konservasi.

“Kita bisa memiliki data yang baik, regulasi yang kuat, dan petugas yang bekerja di lapangan. Tetapi ketika pesan konservasi tidak sampai kepada masyarakat, akan selalu ada jarak. Karena itu kami terus mendorong semangat Communication as Conservation Solution. Komunikasi bukan sekadar menceritakan apa yang kita kerjakan. Komunikasi harus mampu membangun pemahaman, kepercayaan, lalu menggerakkan kepedulian menjadi tindakan,” tambahnya.

Sebab tidak semua persoalan konservasi harus berakhir dengan penindakan. Sebagian dapat dicegah melalui percakapan. Sebagian selesai karena masyarakat memahami. Sebagian lainnya berubah ketika seseorang yang sebelumnya tidak peduli akhirnya merasa memiliki.

Di situlah komunikasi menemukan tempatnya dalam konservasi. Dari Menyelamatkan Satwa hingga Menjaga Sebuah Bentang Alam.

Di lapangan, konservasi jarang berjalan sebagaimana rencana di atas kertas. Kadang sebuah perjalanan dimulai hanya karena laporan singkat dari masyarakat.

Seekor burung ditemukan jatuh. Ular masuk ke permukiman. Satwa terluka membutuhkan pertolongan. Atau masyarakat menemukan sesuatu yang tidak biasa di sekitar hutan.

Dari laporan kecil semacam itulah pekerjaan bisa berkembang menjadi penyelamatan satwa, identifikasi, pemeriksaan kesehatan, pelepasliaran, penelitian, bahkan evaluasi pengelolaan habitat.

Di tempat lain, petugas berjalan mengikuti jalur patroli. Mereka membaca jejak kaki, bekas pakan, suara burung, pohon tumbang, mata air, atau perubahan vegetasi.

Hutan menyimpan informasi dengan caranya sendiri. Tugas manusia adalalah cukup sabar untuk membacanya. Karena itu, pekerjaan konservasi sesungguhnya tidak selalu tentang menyelamatkan seekor satwa.

Kadang yang harus diselamatkan adalah habitatnya. Kadang koridornya. Kadang sumber airnya. Dan pada situasi tertentu, yang perlu diperbaiki justru hubungan manusia dengan alam di sekitarnya.

HKAN dan Pertanyaan yang Seharusnya Kita Renungkan
Hari Konservasi Alam Nasional memiliki sejarah panjang dalam perjalanan konservasi Indonesia. Namun sebuah peringatan akan kehilangan makna apabila hanya selesai pada seremoni, spanduk, penanaman pohon, atau unggahan media sosial.

Pertanyaan terpenting justru muncul setelah semuanya selesai. Apa yang berubah setelah 10 Agustus?

Apakah semakin banyak orang memahami mengapa satwa liar sebaiknya tetap berada di alam? Apakah semakin banyak masyarakat berani melapor ketika menemukan perdagangan ilegal satwa?

Apakah sumber air semakin dijaga? Apakah habitat semakin baik? Apakah konflik antara manusia dan satwa dapat dikurangi? Dan yang paling sederhana, apakah konservasi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat?

Nur Patria menyebut ukuran keberhasilan HKAN justru berada pada hari-hari setelah peringatannya berlalu. 

"HKAN tidak boleh selesai pada tanggal 10 Agustus. Justru setelah itu pekerjaan sesungguhnya dimulai kembali. Kalau peringatan ini mampu membuat satu orang lebih peduli, satu komunitas mulai bergerak, satu desa menjaga sumber airnya, atau seorang anak mulai mengenal satwa liar di sekitarnya, di situlah konservasi mulai tumbuh menjadi budaya,” tegasnya.

Yang Kita Jaga Sesungguhnya Adalah Masa Depan
Barangkali kita tidak pernah benar-benar mengetahui seperti apa Jawa Timur tiga puluh atau lima puluh tahun mendatang. Tetapi keputusan yang dibuat hari ini akan ikut menentukan wajahnya.

Pohon yang ditanam hari ini mungkin baru menjadi tajuk besar ketika penanamnya telah menua. Satwa yang habitatnya kita pertahankan mungkin akan berkembang biak jauh setelah sebuah kegiatan konservasi selesai.

Mata air yang dijaga hari ini mungkin kelak mengalir untuk anak-anak yang bahkan belum lahir. Konservasi memang memiliki cara yang aneh dalam mengajarkan manusia tentang waktu.

Kita bekerja hari ini untuk sesuatu yang hasilnya mungkin dinikmati orang lain. Dan mungkin justru di situlah letak nilai terbesarnya.

HKAN 2026 mengingatkan bahwa merawat alam Indonesia tidak membutuhkan semua orang menjadi ahli konservasi. Kita hanya perlu semakin banyak orang yang bersedia mengambil bagian.

Ada yang menjaga hutan. Ada yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Ada yang mendidik. Ada yang melapor. Ada yang menyelamatkan satwa. Ada yang menanam. Ada pula yang mengambil peran dengan cara sederhana tetapi tidak kalah penting adalah menceritakan mengapa semua pekerjaan itu harus dilakukan.

Sebab sesuatu yang tidak dikenal akan sulit dicintai. Sesuatu yang tidak dipahami akan sulit dibela. Dan sesuatu yang tidak pernah diceritakan perlahan dapat dilupakan.

Itulah mengapa “Communication as Conservation Solution” bukan sekadar slogan bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur.

Ia adalah pengingat bahwa konservasi membutuhkan percakapan yang terus hidup, antara ilmu pengetahuan dan masyarakat, antara kebijakan dan kenyataan lapangan, antara manusia dan alam yang selama ini menopang kehidupannya.

Hari ini, 10 Agustus 2026, kita mungkin memperingati Hari Konservasi Alam Nasional. Besok, spanduk akan diturunkan. Acara selesai. Orang-orang kembali kepada pekerjaannya masing-masing.

Tetapi alam tidak pernah memiliki hari libur. Maka pekerjaan itu harus terus berjalan.

Bukan hanya oleh mereka yang bekerja di dalam kawasan konservasi. Oleh kita semua.

Selamat Hari Konservasi Alam Nasional 2026. Konservasi Alam, Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia.

Communication as Conservation Solution. Karena alam tak bisa dijaga sendirian.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto

23 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait

Kasur Ijo di Tengah Bara
Artikel

Kasur Ijo di Tengah Bara

Gresik - Malam itu mereka tidak sedang berkemah. Api yang menyala di Blok Teneden, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, semak kering terbakar, tunggak masih merah, dan cahaya senter bergerak ke sana kemari