Agustus dari Rimba Jawa Timur: Tentang Satwa, Manusia, dan Jalan Pulang

Agus Irwanto
Agustus dari Rimba Jawa Timur: Tentang Satwa, Manusia, dan Jalan Pulang

Sidoarjo - Ada yang pulang ke hutan. Ada yang masih menunggu. Ada pula hutan yang justru sedang berjuang agar tetap menjadi rumah. Sepanjang Agustus 2026, cerita konservasi di Jawa Timur mempertemukan ketiganya antara satwa, manusia, dan ruang hidup yang semakin sering bersinggungan.

Api mungkin telah padam ketika dua Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis) muda ditemukan di sebuah persawahan di Tulungagung. Tetapi bagi satwa liar, api tidak selesai ketika asap menghilang. Ia dapat meninggalkan habitat yang berubah, tempat berlindung yang hilang, dan satu pilihan sederhana, pergi.

Dua kucing liar itu diduga mengambil pilihan tersebut. Keluar dari habitat setelah kebakaran di sekitar tempat hidupnya, bergerak mendekati bentang yang dikuasai manusia, lalu ditemukan warga. Mereka akhirnya kembali ke alam.

Namun kisah dua Kucing Kuwuk itu hanyalah satu halaman dari catatan panjang konservasi Jawa Timur sepanjang Agustus 2026. Di tempat lain, satwa-satwa lain sedang menunggu jalan pulangnya.

Ada Kangkareng Perut Putih (Anthracoceros albirostris) yang ditemukan di permukiman Driyorejo, Gresik. Warga yang menemukannya tidak mengenal burung tersebut. Ia membuka internet, mencari tahu, lalu menemukan satu informasi penting: burung itu adalah satwa yang dilindungi.

Pencarian itu mengubah segalanya. Burung tersebut tidak dipelihara. Tidak diperjualbelikan namun dilaporkan. Sebuah tindakan sederhana yang memperlihatkan bagaimana konservasi hari ini tidak selalu dimulai dari patroli di tengah hutan. Kadang ia dimulai dari layar telepon genggam, rasa ingin tahu, lalu keputusan untuk melakukan hal yang benar.

Di Sidoarjo, empat ular juga diserahkan secara sukarela kepada petugas. Di berbagai tempat lainnya, laporan mengenai satwa liar terus datang dan jejaring penyelamatan bergerak.

Ada satu pola yang perlahan terlihat. Adanya masyarakat tidak lagi selalu berdiri sebagai penonton dalam konservasi. Mereka mulai menjadi bagian dari sistem itu sendiri.

Ketika Rumah Mulai Berubah
Namun menyelamatkan satwa hanyalah satu bagian dari persoalan. Pertanyaan yang lebih sulit justru muncul setelahnya, mengapa mereka harus diselamatkan?

Di Pulau Bawean, konflik Babi Kutil Bawean (Sus blouchi) menggambarkan tentang rumitnya hubungan itu. Satwa memasuki ruang yang digunakan manusia, lalu kebun terdampak, warga merasa terganggu, dan satwa dianggap sebagai persoalan.

Tetapi konflik manusia dan satwa jarang mempunyai cerita sesederhana siapa mengganggu siapa. Di belakangnya ada persoalan habitat, ketersediaan pakan, daya dukung, sampah, perubahan bentang alam, hingga perilaku manusia. Karena itu, memindahkan satwa dari lokasi konflik mungkin menyelesaikan persoalan hari ini, namun belum tentu menyelesaikan persoalan esok.

Konservasi harus berani bertanya lebih jauh, apa yang sebenarnya sedang berubah di rumah mereka?

Pertanyaan serupa datang dari Cagar Alam Manggis Gadungan, Kediri. Di sana ancaman justru berwarna hijau. Analisis risiko mencatat 27 jenis tumbuhan berpotensi invasif. Sebagian tumbuh subur, merambat, bahkan membuat hutan terlihat semakin rimbun. Nah.

Tetapi hutan yang hijau belum tentu sehat. Di dalam ekosistem, setiap jenis memperebutkan ruang, cahaya, air, dan unsur hara. Ketika jenis tertentu tumbuh terlalu dominan, keseimbangan yang dibangun alam selama bertahun-tahun dapat berubah perlahan.

Nyaris tanpa suara. Itulah sebabnya menjaga hutan tidak cukup hanya memastikan pohon masih berdiri. Kita juga harus memahami apa yang sedang terjadi di bawah tajuknya.

Sebelum Api Datang
Agustus juga membawa kemarau. Di Cagar Alam Gunung Sigogor, Ponorogo, petugas menyusuri kawasan bahkan saat api belum terlihat. Seresah yang mengering dan semak menjadi bahan bakar. Serta, aktivitas manusia di sekitar batas kawasan ikut diperhatikan.

Mereka datang bukan untuk memadamkan api. Mereka datang agar api tidak pernah sempat membesar.

Di tempat lain, Manggala Agni bersama berbagai unsur terus mengingatkan satu prinsip penting: kebakaran hutan bukan urusan satu institusi. Api tidak mengenal batas administrasi. Ia juga tidak memilih apakah yang terbakar hutan produksi, kawasan konservasi, perkebunan, atau lahan masyarakat.

Ketika api datang, yang terancam bukan sekadar hektar. Didalamnya mungkin terdapat sarang, pohon pakan, sumber air, mikroorganisme, serangga, mamalia, burung, reptil, dan kehidupan lain yang bahkan belum sempat kita kenali.

Dua Kucing Kuwuk dari Tulungagung seakan memberikan wajah pada persoalan itu. Saat hutan terbakar, yang kehilangan rumah bukan hanya pohon.

Ketika Media Sosial Membuka Jalan ke Hutan
Ancaman terhadap kawasan juga datang dalam bentuk yang sama sekali berbeda. Sebuah informasi mengenai “jalur baru” menuju Argopuro melalui Panti, Jember, beredar di media sosial.

Informasi bergerak cepat. BBKSDA Jawa Timur kemudian turun bersama para pihak untuk memastikan keadaan di lapangan. Hasil pengecekan menegaskan bahwa jalur tersebut bukan jalur pendakian resmi menuju Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang.

Peristiwa itu menyimpan pelajaran penting bagi konservasi di era digital. Dahulu, sebuah lokasi terpencil mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikenal banyak orang. Hari ini, cukup dengan satu unggahan, satu foto yang menarik, satu koordinat, satu video pendek, kemudian algoritma bekerja. Dalam hitungan hari, tempat yang sebelumnya sunyi dapat berubah menjadi tujuan baru.

Teknologi dapat menjadi sekutu konservasi, seperti pencarian internet yang membantu menyelamatkan Kangkareng di Driyorejo. Namun teknologi yang sama juga dapat membawa tekanan baru terhadap kawasan. Di zaman ketika informasi dapat berlari lebih cepat daripada petugas, komunikasi akhirnya menjadi bagian dari perlindungan kawasan.

Satwa Tidak Bertanya Siapa yang Berwenang
Ada kabar lain datang dari Jakarta pada pertengahan Agustus. MATAWALI, Transformasi Tata Kelola Penyelamatan Satwa Liar melalui Kolaborasi Multipihak di Jawa Timur, meraih Juara III Lomba Inovasi Rimbawan Tahun 2026 kategori Satuan Kerja.

Tetapi cerita terpenting MATAWALI bukanlah piala. Ia justru berada jauh dari panggung penghargaan.

Di rumah warga yang tiba-tiba didatangi ular. Di pohon tempat seekor burung ditemukan terluka. Di jalan ketika satwa liar membutuhkan evakuasi. Di telepon yang berdering ketika masyarakat meminta pertolongan.

Di sana ada petugas BKSDA, pemadam kebakaran, pemerintah daerah, kepolisian, dokter hewan, komunitas, lembaga konservasi, relawan, dan masyarakat yang saling menghubungkan peran. 

Sebab ketika seekor satwa liar membutuhkan pertolongan, ia tidak pernah bertanya institusi mana yang memiliki kewenangan paling besar. Ia hanya membutuhkan manusia yang bersedia mengambil bagian untuk menyelamatkannya.

Mungkin itulah wajah konservasi yang sedang tumbuh di Jawa Timur. Bukan konservasi yang bekerja sendirian. Melainkan konservasi yang bergerak melalui jejaring.

Menjaga yang Belum Hilang
Agustus 2026 akhirnya tidak hanya meninggalkan daftar kegiatan. Ia meninggalkan pertanyaan. Berapa banyak satwa yang berhasil diselamatkan? Berapa hektar hutan yang berhasil dijaga? Berapa kasus konflik yang dapat ditangani?

Angka-angka itu penting. Tetapi konservasi mempunyai ukuran keberhasilan yang jauh lebih panjang daripada laporan bulanan.

Sebab menyelamatkan seekor satwa adalah keberhasilan. Namun memastikan habitatnya tetap ada sehingga generasi berikutnya tidak perlu diselamatkan manusia adalah keberhasilan yang jauh lebih besar.

Di sanalah konservasi menemukan maknanya. Bukan sekadar membawa satwa keluar dari bahaya, tetapi menjaga agar bahaya tidak terus mendatangi mereka. Bukan hanya memadamkan api, tetapi membaca tanda-tandanya sebelum hutan terbakar. 

Bukan sekadar melarang manusia memasuki kawasan, tetapi membuat mereka memahami mengapa ada ruang yang harus tetap sunyi. Dan bukan hanya mengajak masyarakat mencintai satwa liar, tetapi mengajarkan bentuk cinta yang barangkali paling sulit yaitu membiarkan mereka tetap liar.

Dua Kucing Kuwuk itu telah kembali ke alam. Kangkareng dari Driyorejo sedang menapaki jalan menuju kehidupan yang semestinya. Babi Kutil Bawean masih mengingatkan kita bahwa ruang hidup manusia dan satwa membutuhkan jalan tengah. Sementara jauh di balik pepohonan, kehidupan terus berlangsung tanpa menunggu kita.

Barangkali di situlah ukuran keberhasilan konservasi sesungguhnya. Saat hutan masih cukup luas untuk menjadi rumah, manusia cukup peduli untuk menjaganya, dan satwa liar tidak lagi membutuhkan tangan kita untuk tetap hidup.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto

12 views
0 komentar
1 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait