66 Siswa Mencoba Jadi Rimbawan Sehari

Dari simulasi banjir hingga mengintip dengan binokuler, Hutan Kota Trenggalek berubah menjadi ruang kelas terbuka bagi siswa SD Alam Mutiara Umat.
Trenggalek - Hari itu, pelajaran tentang hutan tidak dimulai dari papan tulis. Sebanyak 66 siswa kelas V dan VI SD Alam Mutiara Umat - Tulungagung belajar di Hutan Kota Trenggalek, Selasa, 29 September 2026. Mereka datang bukan sekadar mendengar cerita tentang pohon dan satwa, tetapi mencoba memahami bagaimana alam bekerja.
Melalui kegiatan Rimbawan Mengajar, Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 02 Blitar - BBKSDA Jawa Timur mengajak para siswa mengenal fungsi dan manfaat hutan, keanekaragaman satwa liar hingga cara bersikap ketika berjumpa satwa di sekitar mereka.
Ada pula praktikum sederhana mengenai proses terjadinya banjir. Dari sana, anak-anak diajak melihat hubungan antara hutan, air, dan kehidupan manusia, bahwa apa yang terjadi pada sebuah bentang alam dapat membawa akibat hingga jauh di luar hutan.
Keseruan berlanjut ketika binokuler mulai berpindah dari satu tangan kecil ke tangan lainnya. Para siswa belajar menggunakannya untuk mengamati lingkungan. Mereka juga dikenalkan dengan profil BBKSDA Jawa Timur dan penanganan yang tepat ketika menjumpai satwa liar.
Petugas tidak menjadikan kegiatan itu sebagai ceramah satu arah. Pertanyaan dilemparkan di sela materi dan anak-anak diberi kesempatan menjawab, bertanya serta berdiskusi. Film animasi burung “Sabda Alam” kemudian menjadi cara lain untuk membawa pesan konservasi lebih dekat dengan dunia mereka.
Antusiasme terlihat dari diskusi yang berkembang sepanjang kegiatan.
Bagi Tim RKW 02 Blitar, Rimbawan Mengajar bukan sekadar mengenalkan pekerjaan seorang rimbawan. Kegiatan ini menjadi salah satu cara menanamkan pengetahuan tentang keanekaragaman hayati sejak usia sekolah, terutama di tengah masih terbatasnya pengenalan biodiversitas lokal kepada anak-anak di wilayah Trenggalek, Kediri, Blitar, dan Tulungagung.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada petugas RKW 02 Blitar dan foto bersama. Namun pelajaran terpenting hari itu barangkali tidak tercetak pada sertifikat.
Ia tersimpan pada pengalaman 66 anak yang pulang setelah mengetahui bahwa hutan bukan hanya kumpulan pohon, satwa liar bukan untuk sembarang ditangkap, dan sebuah binokuler dapat menjadi cara sederhana untuk mendekati alam tanpa harus mengganggunya.
Sebab calon penjaga hutan masa depan tidak selalu lahir di tengah rimba. Kadang mereka tumbuh dari anak-anak yang hari ini diberi kesempatan untuk mengenal hutan lebih dekat.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



