Saat Papan Permainan Masuk Ruang Konservasi di Sumenep

Sumenep - Konservasi tidak selalu harus dibicarakan di tengah hutan. Tidak pula harus dimulai dengan istilah ilmiah yang sulit dipahami. Di Sumenep, pesan tentang menjaga satwa liar justru bergerak dari petak ke petak sebuah papan permainan.
Kamis, 20 Agustus, Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Seksi KSDA Wilayah IV menggelar Visit to School di SDTQ Insan Permata Mulia, Sumenep. Bersama komunitas pecinta reptil Kabupaten Sumenep dan Pamekasan, Parking dan Resume, sebanyak 24 siswa kelas III diajak memasuki dunia konservasi dengan cara yang dekat dengan usia mereka melihat, bertanya, bermain, lalu memahami.
Pengenalan dimulai dari hal paling sederhana. Siapa BBKSDA Jawa Timur dan apa yang dikerjakannya?
Tugas konservasi yang biasanya terdengar rumit diterjemahkan melalui bahasa anak-anak. Mereka kemudian diajak membedakan satwa liar dengan satwa peliharaan, mengenali ciri dan perannya di alam, memahami mengapa beberapa jenis satwa dilindungi, hingga melihat bahwa satwa liar di sekitar rumah pun memiliki hak untuk tetap hidup.
Dari Takut Menjadi Ingin Tahu
Ular, kadal dan iguana kemudian membawa suasana kelas menjadi berbeda. Reptil dipilih sebagai salah satu media pengenalan karena kelompok satwa ini kerap berhadapan dengan persepsi negatif. Ular, misalnya, sering lebih dahulu ditakuti sebelum dikenali.
Di sinilah edukasi mengambil peran.
Anak-anak diperkenalkan kepada reptil dengan pendekatan yang aman dan menyenangkan. Bukan untuk menghilangkan kewaspadaan terhadap satwa liar, melainkan menumbuhkan pemahaman bahwa setiap satwa mempunyai karakter dan perannya dalam ekosistem.
Sebab rasa takut yang tidak disertai pengetahuan dapat berubah menjadi tindakan yang merugikan satwa. Sebaliknya, mengenal dapat menjadi pintu pertama untuk menghargai.
Mengapa Ular Tangga?
Setelah mengenal satwa, anak-anak diajak bermain “Ular Tangga Konservasi”.
Pemilihan papan permainan atau board game ini bukan tanpa alasan. Ular tangga merupakan permainan sederhana yang telah akrab dengan dunia anak. Aturannya mudah dipahami, melibatkan interaksi, menghadirkan rasa penasaran, dan membuat setiap peserta aktif menunggu perjalanan menuju petak berikutnya.
Kali ini, petak-petak itu membawa pesan konservasi.
Naik tangga bukan sekadar keberuntungan. Di dalam permainan disisipkan pengetahuan dan perilaku baik terhadap alam. Sebaliknya, perjalanan turun dapat menjadi pengingat bahwa tindakan manusia juga dapat membawa konsekuensi bagi satwa dan habitatnya.
Dengan cara itu, pesan konservasi tidak hanya didengar, tetapi dimainkan.
Kuis dan hadiah semakin menghidupkan kelas. Anak-anak yang aktif bertanya dan menjawab mendapat apresiasi. Ruang belajar pun berubah menjadi ruang percakapan, tempat rasa penasaran terhadap satwa tidak dipadamkan, tetapi diberi jawaban.
Menanam Sebelum Memanen
Tidak ada populasi satwa yang bertambah hari itu. Tidak ada hektare habitat yang langsung terselamatkan. Namun konservasi memang tidak selalu menghasilkan sesuatu yang dapat dihitung pada hari yang sama.
Ada pekerjaan lain yang jauh lebih panjang yaitu bagaimana menanam sebuah cara pandang. Anak-anak yang hari ini belajar bahwa ular tidak selalu harus dibunuh. Bahwa satwa liar berbeda dengan hewan peliharaan, dan bahwa setiap makhluk mempunyai peran di alam, kelak akan tumbuh menjadi generasi yang menentukan bagaimana alam diperlakukan.
Itulah mengapa sebuah board game sederhana mendapat tempat dalam pendidikan konservasi.
Karena untuk anak-anak, pesan yang terlalu panjang mungkin akan terlupakan. Tetapi pengalaman bermain, melihat satwa dari dekat, berani bertanya dan menemukan jawabannya dapat tinggal jauh lebih lama dalam ingatan.
Hari itu, dari sebuah ruang kelas di Sumenep, konservasi memilih cara yang sederhana untuk berbicara kepada generasi berikutnya. Tidak dengan meminta mereka langsung menyelamatkan alam, tetapi dengan mengajak mereka mengenalnya terlebih dahulu.
Penulis: Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor: Agus Irwanto
Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (2)
Tinggalkan Komentar
Cak Ir
Ciamik tenan
Mas Agus
Ada pak Temon



