Sebelum Api Membesar, Kesadaran Harus Lebih Dulu Menyala

Agus Irwanto
Sebelum Api Membesar, Kesadaran Harus Lebih Dulu Menyala

Bawean - Musim kemarau selalu membawa dua wajah bagi kawasan konservasi. Di satu sisi, langit yang cerah memperlihatkan bentang hutan dengan lebih jelas. Namun di sisi lain, dedaunan yang mengering, hamparan savana yang mulai menguning, dan angin yang bertiup kencang menjadikan hutan berada pada kondisi paling rentan terhadap kebakaran.

Di Pulau Bawean, ancaman itu bukan sekadar kemungkinan. Ia adalah risiko yang harus diantisipasi sebelum berubah menjadi bencana.

Berangkat dari semangat tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melalui Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean melaksanakan Patroli Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean pada 28–31 Juli 2026. Kegiatan ini melibatkan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari serta mahasiswa kerja praktik Departemen Biologi Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai wujud kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia akademik dalam menjaga kawasan konservasi.

Untuk menjangkau wilayah yang lebih luas, personel dibagi menjadi dua tim. Mereka menyusuri sejumlah blok yang selama ini dikenal memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran, mulai dari Kumalasa, Payung-payung, Alas Timur, Teneden hingga Gunung Besar. Prioritas diberikan pada kawasan hutan jati dan savana karena vegetasi yang mengering selama musim kemarau dapat dengan mudah terbakar apabila terkena sumber api sekecil apa pun.

Namun patroli kali ini tidak hanya berbicara tentang mencari titik api.

Di setiap desa penyangga yang dilalui, tim memilih berhenti, menyapa, dan berdialog dengan masyarakat. Percakapan berlangsung sederhana, membahas bahaya pembakaran lahan, pentingnya memastikan api benar-benar padam setelah membersihkan lingkungan, hingga pengelolaan sampah yang tidak menimbulkan risiko bagi kawasan konservasi.

Sosialisasi dilaksanakan di Desa Tanjung Ori, Lebak, Kumalasa, Balikterus, Bululanjang, Klumpang Gubug, dan Diponggo. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dari strategi mitigasi, sebab masyarakat desa penyangga merupakan garda terdepan yang setiap hari hidup berdampingan dengan kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean.

Bagi petugas, menjaga kawasan tidak cukup hanya dengan patroli. Keberhasilan sesungguhnya diukur dari tumbuhnya kesadaran bersama bahwa setiap orang memiliki peran dalam mencegah kebakaran hutan.

Selama patroli berlangsung, tim menemukan sejumlah bekas kebakaran berskala kecil di beberapa lokasi. Salah satunya berada di Grid 912, tepat di tepi pal batas Nomor 1864 Blok Alas Timur, dengan panjang area terdampak sekitar 70 meter dan lebar sekitar dua meter. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, bekas kebakaran tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas pembersihan jalur pipa air di sekitar kawasan.

Temuan serupa juga dijumpai di kawasan Sekang, Desa Lebak, di tepi Blok Kumalasa, serta empat titik bekas kebakaran lainnya di Blok Teneden. Meskipun seluruh temuan berada dalam skala kecil dan tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kewaspadaan harus terus ditingkatkan selama musim kemarau berlangsung.

Temuan lain justru menghadirkan pesan yang lebih luas.

Di sepanjang sisi jalan kawasan Blok Kumalasa, tim menemukan lebih dari sepuluh titik bekas pembakaran sampah hasil kerja bakti yang masih ditinggalkan dalam kondisi menyisakan bara api. Seluruh titik tersebut segera dipadamkan guna mencegah api merambat ke vegetasi kering di sekitar kawasan konservasi.

Sementara itu, di sisi selatan Blok Alas Timur, tim juga menemukan tumpukan sampah yang sebagian besar didominasi oleh popok sekali pakai. Keberadaan sampah tersebut menjadi perhatian tersendiri karena selain sulit terurai, popok bekas berpotensi mencemari tanah dan air apabila tidak dikelola dengan benar. 

Temuan ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap kawasan konservasi tidak selalu datang dalam bentuk api. Sampah yang dibuang sembarangan juga dapat perlahan menurunkan kualitas ekosistem yang menjadi rumah bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar.

Sebagai tindak lanjut, tim memasang spanduk peringatan bahaya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah titik rawan serta persimpangan desa penyangga. Petugas juga melakukan penanganan terbatas terhadap sampah yang ditemukan sembari mendorong koordinasi lebih lanjut dengan pemerintah desa dan instansi terkait agar pengelolaan sampah di sekitar kawasan konservasi dapat dilakukan secara lebih terpadu.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang semakin erat dengan masyarakat. Sebab dalam pengelolaan kawasan konservasi modern, masyarakat bukan lagi dipandang sebagai pihak di luar kawasan, melainkan sebagai mitra yang memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.

Musim kemarau memang tidak dapat dihentikan. Angin akan tetap bertiup, dedaunan akan tetap mengering, dan risiko kebakaran akan selalu ada. Namun satu hal yang dapat terus dibangun adalah kesadaran.

Karena pada akhirnya, hutan tidak selalu hilang akibat kobaran api yang besar. Kadang, ia bermula dari bara kecil yang diabaikan, atau dari sampah yang dianggap sepele. Itulah sebabnya, sebelum api membesar, kesadaran harus lebih dulu menyala.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik


12 views
1 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (1)

Tinggalkan Komentar

Agus Irwanto

Semangat buat teman2 Bawean

Artikel Terkait