Di Bawean, Luka Lama Terkuak, Konservasi Harus Mampu Melihat Lebih Jauh

Bawean - Hutan jarang berubah dalam semalam. Ia perlahan membuka kisahnya, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya memperlihatkan jejak yang selama ini tersembunyi di balik rapatnya vegetasi. Di Pulau Bawean, sebuah temuan hasil patroli rutin menjadi pengingat bahwa menjaga kawasan konservasi bukan hanya tentang mengamati satwa liar, tetapi juga membaca setiap perubahan yang terjadi pada bentang alam yang menjadi rumah bagi mereka.
Menindaklanjuti hasil SMART Patrol, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melalui Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean melaksanakan verifikasi lapangan di Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, Selasa (4/8). Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi area yang sebelumnya teridentifikasi sebagai bukaan lahan, sekaligus mengumpulkan informasi lapangan sebagai dasar penyusunan langkah pengendalian dan pemulihan kawasan.
Verifikasi dilakukan bersama Kepala Dusun Pasar Telaga, Desa Balikterus, dengan melibatkan personel BBKSDA Jawa Timur, Masyarakat Mitra Polhut Bawean Lestari, serta mahasiswa kerja praktik dari Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Hasil pemeriksaan menemukan enam titik area terbuka yang tersebar pada Grid 769, 770, 785, dan 786 dengan luas keseluruhan sekitar 0,83 Ha. Di beberapa lokasi dijumpai tanaman budidaya berupa pisang, jeruk, dan durian, yang mengindikasikan bahwa aktivitas pemanfaatan lahan tersebut kemungkinan telah berlangsung cukup lama.
Temuan ini tidak serta-merta dipandang sebagai persoalan hukum semata. Sebaliknya, ia menjadi pintu masuk untuk memahami dinamika kawasan secara lebih utuh. Hingga saat ini, identitas pihak yang membuka maupun memanfaatkan lokasi tersebut masih dalam proses penelusuran melalui koordinasi dengan pemerintah desa dan tokoh setempat. Pendekatan yang ditempuh lebih mengedepankan verifikasi fakta, komunikasi, dan penyelesaian berbasis kolaborasi.
Kepala Dusun Pasar Telaga menyampaikan bahwa dirinya belum mengetahui adanya aktivitas tersebut karena sudah cukup lama tidak melakukan pemantauan langsung ke lokasi. Ia juga menyatakan komitmennya untuk mengimbau masyarakat agar tidak memperluas area terbuka ataupun melakukan aktivitas baru di dalam kawasan konservasi selama proses pendalaman berlangsung.
Bagi tim pengelola kawasan, enam titik tersebut bukan sekadar angka di atas peta. Meskipun masing-masing memiliki luasan yang relatif kecil, keberadaannya dalam satu bentang alam menunjukkan adanya perubahan tutupan vegetasi yang patut dicermati. Perubahan seperti ini berpotensi memengaruhi konektivitas habitat, mempermudah akses menuju bagian kawasan yang lebih dalam, meningkatkan risiko erosi, memperbesar potensi kebakaran pada musim kemarau, hingga membuka peluang berkembangnya jenis-jenis tumbuhan nonalami.
Lebih jauh lagi, temuan ini menghadirkan sebuah refleksi penting dalam pengelolaan kawasan konservasi. Selama bertahun-tahun, perhatian sering kali lebih banyak diarahkan pada penyelamatan spesies-spesies kunci, seperti satwa endemik, satwa dilindungi, atau tumbuhan langka. Padahal, keberhasilan konservasi sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah satwa yang berhasil dipertahankan, melainkan juga oleh kemampuan menjaga keutuhan bentang alam yang menopang seluruh proses kehidupan.
Habitat yang utuh adalah fondasi utama bagi kelangsungan hidup setiap spesies. Ketika tutupan hutan mulai berubah, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu jenis tumbuhan atau satwa, tetapi juga oleh keseluruhan jalinan ekologi yang saling terhubung di dalamnya.
Atas dasar itu, BBKSDA Jawa Timur akan memperkuat pendekatan pengelolaan berbasis bentang alam. Langkah yang disiapkan meliputi verifikasi batas kawasan pada seluruh titik temuan, penguatan patroli SMART berbasis risiko, monitoring berkala pada lokasi yang sama, penyusunan rencana pemulihan melalui regenerasi alami terbantu maupun penanaman jenis lokal, serta koordinasi dengan pemerintah desa dan para pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi alternatif pemanfaatan lahan dan sumber pakan ternak di luar kawasan konservasi.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara perlindungan kawasan dan kehidupan masyarakat di wilayah penyangga. Sebab konservasi tidak dibangun di atas sekat, melainkan melalui dialog, saling memahami, dan ikhtiar bersama menjaga ruang hidup yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Luka lama yang ditemukan di Gunung Besar bukanlah akhir dari cerita. Ia justru menjadi pengingat bahwa konservasi harus terus belajar membaca perubahan, sekecil apa pun bentuknya. Karena hutan yang tetap utuh bukan hanya menjamin kelangsungan hidup satwa liar, tetapi juga menjaga sumber air, tanah, iklim lokal, dan berbagai manfaat ekologis yang pada akhirnya kembali kepada manusia.
Di Pulau Bawean, enam titik kecil itu mengajarkan satu hal yang besar: menjaga masa depan keanekaragaman hayati tidak cukup dilakukan dengan melindungi spesies, tetapi juga dengan memastikan rumahnya tetap lestari.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



