Para Penjaga Hutan yang Akhirnya Pulang

Agus Irwanto
Para Penjaga Hutan yang Akhirnya Pulang
Kolaborasi Masyarakat, Damkar, BBKSDA Jawa Timur, dan Perhutani Mengembalikan Empat Satwa Liar ke Habitat Alaminya

Pacitan - Di balik rimbunnya hutan, terdapat satwa-satwa yang bekerja tanpa pernah meminta perhatian manusia. Mereka tidak membangun sarang yang megah, tidak mengeluarkan suara yang nyaring, dan nyaris tak pernah terlihat. 

Namun keberadaan mereka menjaga keseimbangan alam setiap hari. Trenggiling mengendalikan populasi semut dan rayap, sementara ular koros menjaga agar populasi hewan pengerat tidak berkembang tanpa kendali. Mereka adalah para penjaga hutan yang sesungguhnya.

Pada Selasa, 4 Agustus 2026, empat penjaga hutan itu akhirnya kembali ke rumahnya.

Tim Matawali Resor Konservasi Wilayah (RKW) 05 Ponorogo, Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro menerima penyerahan dua ekor Trenggiling (Manis javanica) dan dua ekor Ular Koros (Ptyas korros) dari Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Pacitan. Satwa-satwa tersebut merupakan hasil evakuasi dan penyerahan sukarela masyarakat dari Desa Gembong, Desa Widoro, dan Desa Baleharjo selama dua minggu terakhir.

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat bahwa satwa liar yang memasuki permukiman bukan untuk dipelihara ataupun diperdagangkan, melainkan perlu ditangani secara tepat agar dapat kembali menjalankan perannya di alam. Langkah masyarakat melaporkan temuan satwa kepada petugas menjadi bagian penting dalam upaya konservasi spesies yang dilindungi maupun yang memiliki peran ekologis penting.

Setelah menerima satwa, Tim Matawali segera melakukan rapid assessment untuk memastikan kondisi kesehatannya. Pemeriksaan menunjukkan bahwa seluruh satwa berada dalam kondisi fisik yang baik, memiliki respons alami terhadap lingkungan, serta masih memperlihatkan perilaku liar. Hasil tersebut menjadi dasar bahwa keempat satwa layak untuk segera dikembalikan ke habitat alaminya tanpa memerlukan rehabilitasi lebih lanjut.

Namun, melepas satwa liar tidak cukup hanya dengan membuka kandang di sembarang tempat. Habitat tujuan harus mampu menjamin peluang hidup satwa sekaligus meminimalkan potensi konflik baru dengan manusia. 

Atas dasar itu, petugas BBKSDA Jawa Timur berkoordinasi dengan Perhutani RPH Pacitan–BKPH Pacitan untuk menentukan lokasi pelepasliaran yang memiliki tutupan hutan baik, jauh dari aktivitas masyarakat, serta sesuai dengan karakter habitat alami trenggiling maupun ular koros.

Lokasi yang dipilih berada di kawasan Hutan Lindung Perhutani RPH Pacitan–BKPH Pacitan. Pelepasliaran dilakukan bersama Kepala Satpol PP Kabupaten Pacitan, Komandan Regu Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Pacitan, Kepala RPH Pacitan, serta petugas BBKSDA Jawa Timur sebagai wujud sinergi lintas sektor dalam menjaga kelestarian satwa liar.

Sesaat setelah pintu kandang dibuka, kedua Trenggiling perlahan melangkah menuju lantai hutan, menghilang di antara serasah daun dan semak belukar. Tidak jauh berbeda, dua ular koros bergerak lincah menyusuri vegetasi, kembali menyatu dengan habitat yang telah lama membentuk perilaku alaminya. 

Tak ada tepuk tangan. Tak ada seremoni. Yang terdengar hanyalah suara dedaunan yang kembali menerima penghuninya.

Momen sederhana tersebut sesungguhnya menyimpan makna besar bagi konservasi. Trenggiling merupakan salah satu mamalia paling terancam di dunia akibat perburuan dan perdagangan ilegal. Sebagai pemakan semut dan rayap, spesies ini membantu menjaga keseimbangan populasi serangga yang berpotensi merusak vegetasi hutan. 

Sementara itu, ular koros berperan sebagai predator alami berbagai jenis hewan pengerat. Kehadirannya membantu menjaga stabilitas rantai makanan sekaligus mengurangi potensi ledakan populasi tikus yang dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem.

Keberhasilan pelepasliaran ini juga menjadi bukti bahwa konservasi tidak pernah berdiri sendiri. Ia lahir dari kepedulian masyarakat yang memilih melapor, kesiapsiagaan petugas Damkar dalam mengevakuasi satwa secara aman, koordinasi cepat Tim Matawali BBKSDA Jawa Timur, serta dukungan Perhutani dalam menyediakan habitat yang sesuai. Setiap pihak menjalankan perannya sehingga satwa dapat kembali ke tempat yang semestinya.

Pada akhirnya, konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan individu satwa. Lebih dari itu, konservasi adalah mengembalikan setiap spesies agar kembali menjalankan fungsi ekologisnya di alam. 

Sebab ketika seekor trenggiling kembali mencari makan di antara guguran daun, atau seekor ular koros kembali memburu mangsanya di lantai hutan. Sesungguhnya yang sedang dipulihkan bukan hanya kehidupan satwa itu sendiri, melainkan keseimbangan hutan yang menjadi penopang kehidupan banyak makhluk.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun


9 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait