
Catatan Magang Mahasiswa di BBKSDA Jawa Timur
Konservasi tidak selalu lahir dari ruang rapat atau lembar kebijakan. Ia kerap tumbuh perlahan, dari langkah kaki di jalur hutan, dari catatan lapangan yang berulang, dan dari dialog panjang dengan ma
Temukan informasi terbaru, kegiatan konservasi, dan edukasi seputar keanekaragaman hayati di Jawa Timur.
Menampilkan hasil untuk: dengan tag #kehutanan(24 artikel ditemukan)

Konservasi tidak selalu lahir dari ruang rapat atau lembar kebijakan. Ia kerap tumbuh perlahan, dari langkah kaki di jalur hutan, dari catatan lapangan yang berulang, dan dari dialog panjang dengan ma

Tiga dekade lalu, Elang Jawa adalah burung pemangsa yang lebih sering hadir dalam catatan riset ketimbang ruang publik. Kini, setelah perjalanan panjang yang diisi penelitian, patroli hutan, rehabilit

Di sebuah pulau yang dijaga sang endemik rusa bawean, tak pernah benar-benar sunyi, tiga mahasiswa Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan Universitas Gadjah Mada menutup perjalanan magang mereka dengan mem

Rapat Koordinasi Perlindungan Hutan Provinsi Jawa Timur Tahun 2025 dibuka di RR Tectona, Kantor Dinas Kehutanan (27/11/2025). Rapat ini mengusung tema “Kolaborasi untuk Lestarinya Hutan Jawa Timur.”

Dalam suasana penuh kehangatan dan rasa syukur, keluarga besar Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menggelar acara Serah Terima Jabatan (Sertijab) pejabat struktural ling

Dalam rimba Cagar Alam Pulau Sempu, langkah tim Smart Patrol Balai Besar KSDA Jawa Timur berpadu dengan bisik angin dan suara satwa liar yang bergaung di bawah kanopi hutan. Selama tujuh hari, mulai 2

Matahari baru saja menembus tipis kabut pagi, menyalakan kilau zamrud di permukaan Danau Kastoba. Suara burung bersahutan, diselingi desir angin yang menggerakkan pucuk-pucuk pohon. Di jalur setapak

Di sebuah ruang rapat sederhana di Kantor Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, tiga mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya berdiri di hadapan jajaran Balai Besar KSDA Jawa Timur, 7 Agustus 202

Dalam dunia konservasi, tidak semua pahlawan membawa senjata. Sebagian dari mereka membawa buku catatan, semangat pantang menyerah, dan kemampuan mendengar denyut kehidupan masyarakat di pinggiran hut