Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi
Pengelolaan kawasan konservasi selama ini telah dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku, namun demikian perlu dilakukan pengukuran efektivitas pengelolaan untuk dapat mengetahui apakah pen
Temukan informasi terbaru, kegiatan konservasi, dan edukasi seputar keanekaragaman hayati di Jawa Timur.
Menampilkan hasil untuk: di kategori Artikel(324 artikel ditemukan)
Pengelolaan kawasan konservasi selama ini telah dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku, namun demikian perlu dilakukan pengukuran efektivitas pengelolaan untuk dapat mengetahui apakah pen
Salah satu metode untuk mengukur efektivitas pengelolaan kawasan konservasi adalah Metode METT atau Management Effectivenes Tracking Tools. Metode ini dikembangkan oleh WWF dan Worldbank. Secara umum

Keindahan bentang alam Ijen telah berkibar di pentas dunia. Banyak pelancong manca mendaki gunung ini untuk menikmati panoramanya. Dua ekor ayam hutan betina melesat terbang menyelinap dalam sesemak

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), pada 2-11 Oktober 2013, mennyelenggarakan ekspedisi untuk menemukan lokasi Ranu Tompe. “Kami belum pernah melihatnya, dan hanya tahu dari foto

Indonesia mempunyai kekayaan keanekaragaman hayati, termasuk satwa liar yang tinggi. Diperkirakan 300.000 jenis satwa liar atau sekitar 17% satwa di dunia terdapat di Indonesia, walaupun luas Indones

Sebuah penelitian menyatakan bahwa perencanaan konservasi yang dibangun dengan pembagian ruang mulai dari skala kecil yang baik dan pengamatan berkala bisa membantu perubahan dalam skala global, arti

Indonesia memiliki kekayaan flora dan fauna serta hidupan liar lainnya yang mengundang perhatian dan kekaguman berbagai pihak baik di dalam maupun di luar negeri. Tercatat tidak kurang dari 515 spesi

Indonesia memiliki 6 spesies penyu dari 7 (tujuh) spesies penyu yang ada di dunia. Spesies penyu tersebut yaitu : Penyu Pipih (Natator depressus), Penyu Abu (Lepidochelys olivacea), Penyu Belimbing

Ular Kobra atau Cobra Snake memiliki nama latin naja sputatrix. Kobra, apabila menggigit mangsanya, ia akan menyuntikkan bisa melalui taring racunnya ke dalam pembuluh darah si mangsa. Ular jenis ini